Labirin Waktu (7) … (novel)

Berlari Vivi keluar dari Kamar Sem, terkejut, dipandangnya serakan pecahan piring di lantai. Pikirnya, bagaimana hiasan dinding bisa jatuh?

Cleo tetap bersembunyi di kolong meja. Ketika Vivi memanggilnya Cleo tetap berdiam di tempatnya.

‘’Cleo!’’ Vivi memanggil, tetapi Cleo tetap tak mau keluar.

Waktu Vivi datang berjongkok di dekat meja, Cleo menyeringai, memperlihatkan giginya. Sepertinya Cleo benar-benar ketakutan. Ekornya ditekukkan ke bawah, kupingnya tegak lurus ke atas seakan-akan Cleo mendengar sesuatu. Dan matanya tetap lurus menatap ke ruang tengah, seakan-akan ada seseorang yang berdiri di sana. Melihat tingkah Cleo membuat Vivi merinding bulu kuduknya.

Trenyuh, sedih, kalut pikiran dan entah emosi apalagi Vivi memungut semua pecahan piring. Ada goresan putih yang merusak ubin akibat hantaman keras piring yang terjatuh.

Delfts Blauw, piring hiasan untuk dinding. Kado yang ia dan Elona beli bersama ketika suatu hari mengunjungi Delft. Piring porselen berukuran diameter duapuluhdelapan centimeter dengan motif kincir angin di pinggir sungai dan bunga-bunga kecil di sekitarnya.

Telepon rumah berdering

‘’Halo, bicara dengan ibu Vivi Visser?’’

‘’Ya’’

‘’Dengan Jansen dari bagian personalia tempat Elona bekerja,’’ terdengar suara lelaki di seberang sana.

‘’O, ya, pagi Pak Jansen’’

‘’Terkait dengan Elona Visser, sebenarnya besok rencana kami akan datang, namun karena sesuatu hal tidak bisa. Apakah ibu Vivi ada waktu hari Jumat pukul enam sore’’

‘’Gimana kalau jam tujuh malam saja, saya masih sibuk mengurus anak-anak’’

‘’Baiklah, Jumat jam tujuh malam ya, ‘’ Jansen menyetujui.

Ketika hendak membuang pecahan piring ke dalam bak sampah, tiba-tiba pecahan piring yang tajam melukai jempol tangan Vivi. Di tekannya keras luka toreh yang berdarah agar darah keluar dan berhenti. Setelah itu cepat dicucinya luka serta dibalutnya dengan plester pembalut.

Seraya menghirup teh hangat aroma madu tanpa gula, Vivi duduk di meja dapur sambil merenung. Tatapannya lurus menembus gorden jendela, seakan-akan melanglang cakrawala di luar sana. Langit cerah biru bersemburat awan putih yang halus. Sesekali melintas kelepak burung di udara.

Ditariknya nafas sedalam ia bisa. Ingatannya kental pada putrinya, Elona. Empat bulan sudah Vivi menggantikan fungsi Elona sebagai oma dan ibu bagi Sem dan Lizzy. Bram putranya di Canada demikian sedih dengan tragedi ini, hingga ia sulit berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Menurut Roxanne, istri Bram, kini Bram harus mendapat terapi dari sebuah konsultasi psikiater.

Diambilnya surat-surat rekening pembayaran kebutuhan rumah tempat tinggal Elona. Beberapa Vivi menanda tangani, sebagai perwalian pertanggungan jawab sementara. Rekening langganan majalah wanita Libelle yang tertunggak tiga bulan dan belum di bayar oleh Elona, harus Vivi selesaikan.

‘’Mam, kalau butuh uang kontak aku ya?’’ ucap Bram di seberang sana suatu hari.

‘’Okay Bram, saat ini semua masih under control’’

‘’Jangan lupa sesi laporan penyelidikan dari kepolisian simpan baik-baik,’’ Bram mengingatkan.

‘’Ya’’

‘’Kalau perlu minta bantuan hukum dari kantor pengacara, pilih saja Jul dan Julia,’’ kembali Bram mengingatkan.

‘’Saat ini belum Bram, gak usah banyak pikir soal ini. Mam bisa mengatasi. Bert dan Sherly selalu membantu.’’

Selesai menghirup teh terakhir, di sambarnya jaket warna coklat muda serta tas dan surat-surat penting. Ban sepeda yang sedikit kempes dipompanya. Belum sampai duapuluh menit Vivi sudah sampai di kantor pusat Bank tempat dimana rekening Elona berada, letaknya tidak jauh dari rumah dimana Elona tinggal.

‘’Ya, bisa saya bantu?’’ sapa resepsionis Bank.

‘’Bisa bertemu dengan Marcel de Groot?’’ tanya Vivi.

‘’Apakah sudah ada janji sebelumnya?’’

‘’Ya’’

Vivi digiring ke sebuah ruang berkaca. Setelah dipersilahkan duduk sambil menunggu Marcel, Vivi meluruskan kakinya dan meletakkan semua surat-surat yang diperlukan di atas meja. Tak lama kemudian muncul Marcel de Groot.

‘’Selamat pagi ibu Visser,’’ Marcel mengulurkan tangannya, menyapa.

‘’Pagi’’

‘’Ya, soal rekening Elona Visser tentunya. Seperti beberapakali pembicaraan kita.’’ Marcel membuka topik pembicaraan.

‘’Begini ibu Visser, kalau ibu tidak berkeberatan dan menganggap hal ini baik, nomor rekening dari putri ibu Elona Visser tidak akan kami hapus tetapi menggantikannya dengan nama ibunya yaitu anda sendiri. Namun, kalau anda berkeberatan dan ingin rekening nomor ini ditutup, maka Bank akan lakukan sesuai permohonan ibu Visser, dan jumlah saldo akan kami transfer ke Bank dimana ibu Visser sebagai nasabah,’’ Marcel menjelaskan.

‘’Jadi ada dua opsi,’’ Vivi bertanya.

‘’Ya’’

‘’Opsi yang pertama menurut kami adalah yang bijaksana. Andaikata Elona Visser ditemukan dan beliau masih hidup, maka nama rekening nomor atas namanya masih aktif dan bisa namanya dibalikkan kembali’’

Akhirnya Vivi menyetujui opsi yang pertama. Pikir Vivi, yang penting adalah semoga Elona cepat ditemukan. Marcel mengingatkan Vivi untuk menyimpan dengan baik data surat-surat balik nama nomor rekening ini.

‘’Kita berdoa, semoga putri ibu segera mendapat kejelasan tentang situasinya. Sudah sampai dimanakah sesi penyelidikannya?’’ tanya Marcel.

‘’Polisi masih terus melakukan tugasnya,’’ jawab Vivi.

Dalam perjalanan pulang, di tengah jalan kembali telepon genggam berbunyi. Ini kali dari Sherly orang tua Fred.

‘’Viv, apakah perlu roti dan selai untuk anak-anak, kita mau mampir di supermarket nih’’

‘’Gak usah, semua sudah ada di rumah,’’ sahut Vivi.

Jam duabelas lebih tigapuluhlima menit siang, Sherly dan Bert serta Sem dan Lizzy datang. Suara mereka gaduh memenuhi gang di ruang depan pintu masuk. Istirahat untuk makan siang dari sekolah.

Cleo ikut-ikutan menyalak menyambut. kali ini Cleo sudah kembali gembira.

Belum sampai di ruang tengah terlihat Sem dan Cleo sudah saling bergulingan di ubin.

‘’Sem, buka jaketmu, ayo!’’ Vivi mengingatkan.

Bert masih juga menggendong Lizzy.

‘’Ayo Liz, jangan kolokan gitu. Sem, Lizzy, ayo cuci tangan kalian yang bersih. Kita makan roti bersama-sama.

‘’Oma, kok roti! katanya kentang goreng’’ protes Sem.

‘’Kentang goreng nanti sore untuk makan malam, bukan sekarang’’ Vivi mengingatkan.

Ramai mereka duduk mengelilingi meja makan. Sementara Sherly sibuk membantu menyiapkan roti untuk Lizzy, gelas limun tersenggol siku-siku Sem, isinya tumpah membasahi taplak meja. Bert dan Vivi bekerja sama menata kembali meja, dan perintahkan agar Sem duduk manis di kursinya dan jangan meladeni Cleo.

Suara telepon di ruang tengah berdering.

‘’Halo, bicara dengan ibu Visser?’’ terdengar suara wanita diseberang sana.

‘’Ya, … dengan siapa ini?’’ tanya Vivi.

‘’Dari kepolisian bagian sesi penyelidikan kasus Elona Visser’’

Suara anak-anak yang lagi ramai di meja makan bersama Bert dan Sherly, tiba-tiba terdengar sangat jauh sekali.

Vivi merasa tempatnya berpijak terputar-putar. Ketika ditatapnya plafon, warnanya bukan putih lagi tetapi merah muda dan sedikit keabu-abuan. Vivi mencari tempat berpegang.

Gubrak …!

Semua gelap.

‘’Halo, … halo, … bicara dengan ibu Visser, halo, …masih adakah orang di sana!’’ terdengar masih suara polisi dalam telepon.

Lizzy berlari sampai terjatuh dari kursinya menghampiri Vivi yang tergeletak di ubin, pingsan.

‘’Omaaaaaaa, …. oma…..!’’ Lizzy berteriak menangis keras.

Bersambung ….

Fiksiana kompasiana.com novel ”labirin waktu-7”

Dit bericht was geplaatst op maart 24, 2017, in Novel en getagd als .

Pasir, Gula Kehidupan … (puisi)

 

 

Kau tetap bertanya lewat teks-teks yang tak lelah

Kemana, lari?

Gemuruh angin marah pertanda kecemburuan

Busa air melimpah seakan celoteh makian

Teriakan nyaring di atas, kita biarkan

Aku tetap mengkais,

sisa-sisa kristal gula-gula pada tembok kehidupan

Maknanya sulit untuk kita kunyah

Tau kah kau?

Ketika kaki-kaki memalu dengan tenaga halilintar

Tak pernah terdengar rintihan kita yang ekstase

Kau, aku, telanjang bergelut sampai basah atau pilih kering

Maknanya? ah, terlupakan

Kita yang Alfa, ketika Omega, kita lagi yang tersisa

Abadi, berputar, meski berupa as

Sepanjang elegi antah ada yang punya

Photo ”Pasir, Gula Kehidupan” Copyright 2014©RonOttPhotography. All rights reserved.

Fiksiana kompasiana.com puisi ”pasir gula kehidupan”

Dit bericht was geplaatst op maart 23, 2017, in Puisi en getagd als .

Labirin Waktu (6) … (novel)

‘’Sem, Lizzy! jangan lupa buku pe-er kalian,’’ Vivi mengingatkan.

Guk, … guk,… guk,… Cleo meratap pada Vivi, minta jalan-jalan. Mungkin Cleo mau buang air.

‘’Oma, boleh jalan-jalan sebentar dengan Cleo gak?’’ tanya Sem.

“Kalian gak punya waktu banyak, biar oma nanti yang urus Cleo,’’ timpal Vivi.

Sementara Cleo terus menggonggong tak sabaran mau keluar, dan Sem mencoba menarik kaki Cleo mengajak berguling di lantai, bermain. Cleo menyeringai, menunjukkan barisan giginya, pertanda Cleo lagi tidak suka diajak main. Kembali Cleo menyalak.

‘’Sem, stop! ini masih pagi nanti tetangga protes!’’ Vivi memperingatkan.

Sementara di kamar lain, Lizzy diam-diam menyelinap masuk ke dalam kamar tidur Elona, mamanya.

Direbahkan tubuhnya yang kecil di atas tempat tidur. Masih hangat ingatannya pada waktu yang lalu Lizzy boleh tidur di sebelah Elona. Diendusnya bantal tidur Elona. Aroma shampoo dan krem wajah Elona serasa masih tetap ada di sana, membuainya. Seperti Elona masih tidur tadi malam. Dibenamkan wajahnya pada bantal, dimiringkan kepalanya, matanya kini melirik hamparan motif bunga Campanula pada alas termpat tidur. Ujung kukunya mengais satu motif, pikirnya, mungkin saja bunga akan hidup dan bisa dipetik.

Dibalikkannya tubuh, kini Lizzy telentang.

Matanya menyapu plafon kamar. Ada titik hitam di sana, nyamuk. Bola matanya kini bergulir turun berhenti pada dua bingkai foto. Pas di tengah satu sisi ruang kamar, terlukis abadi gambar yang tak akan pernah berubah. Lupa-lupa ingat Lizzy melihat segurat kumis di atas bibir Fred, papanya. Dengan manja Cleo menjulurkan lidahnya dipelukkan Sem. Terlihat jaket Sem sedikit kebesaran ukurannya, dan rambut poni Sem hampir menutupi matanya sebelah kiri. Sebaris gigi yang putih menghiasi tawa mamanya, Elona. Rambut ikalnya tergerai menyentuh bahu, sama dengan ikal rambutnya. Sedangkan Lizzy asyik dengan permen lolipopnya, duduk di bahu Fred. Satu tangannya memegang kepala Fred, dan satu kakinya terlihat dipegang oleh Elona dan yang satu oleh papanya. Lizzy mengenakan sepatu sandal warna merah. Rok kuning muda dengan pinggiran renda serta blus warna putih berlengan pof, membuat warna cahaya matahari pada foto demikian menyala.

Puas menikmati kisah gambar, mata Lizzy bergulir pada bingkai yang lain.

Di sana, terlihat Elona dengan bunga di tangan. Sedangkan bunga korsase kecil pada dada Fred. Foto kawin Elona dan Fred. Gaun putih motif brokat cocok sekali dikenakan oleh mamanya. Panjangnya hanya limabelas centimeter di bawah lutut. Kaki Elona telanjang, kedua sepatunya di letakkan begitu saja di atas kap mobil. Bunga di tangan berwarna ceria, ada si putih dan kuning Daisy Marguerite, ada si merah Bellis Perennis, ada si oranje Hebras dan ada si biru Petonia dan menyelinap di sana sini si kecil ungu tua Campanula. Lizzy masih ingat cerita Elona tentang macam bunga apa saja yang menjadi buket bunga tangan pengantinnya. Lizzy suka bunga, sama dengan mamanya, Elona.

Sementara Fred, papanya berdiri menyandar rileks di samping Elona, sambil sedikit membungkuk. Sedangkan salah satu kakinya naik menginjak pinggir mobil. Fred sangat tampan dengan jas pengantin warna abu-abu ke arah biru. Setangkai korsase Daisy Marguerite putih dan si merah Bellis Perennis tersemat indah di salah satu saku jasnya. Dua tangkai daun asparagus menghias melengkapi. Keduanya tersenyum bahagia, seakan menyapa Lizzy, ”hei you!”

Hanya satu yang Lizzy tidak tahu, mobil merah itu milik siapa. Pernah mamanya cerita, itu mobil pengantin yang mereka sewa.

‘’Lizzy!’’

Terdengar suara Vivi memanggil, terdengar juga berkali-kali Vivi sebut nama Sem. Sementara Cleo terus menggonggong.

Beranjak Lizzy melangkah ke arah meja hias Elona. Ada sebuah gelang yang nangkring pada sebuah botol parfum. Gelang manik Lizzy untuk Elona. Ya, masih ingat ketika itu, Lizzy yang buat untuk memperingati hari ibu. Bersama dengan ibu guru dan teman-teman sekelas mereka membuat kado untuk ibu, gelang dari manik-manik. Khusus untuk Elona, Lizzy memilih warna biru, ungu dan putih. Warna yang paling Elona suka.

‘’Mama, kenapa gak dipakai?’’

‘’Ukurannya gak pas, tapi bagus untuk hiasan botol parfum,’’ Elona membesarkan hati Lizzy.

Ya, Lizzy ingat sekarang. Waktu itu mereka tidak tahu ukuran pergelangan tangan mama mereka. Jadi hanya pakai ukuran pergelangan tangan ibu guru.

Di sebelah botol parfum ada botol ukuran kecil lagi. Lizzy mencoba membacanya pelan-pelan, deo-do-ran, yap, deodoran milik Elona. Dibukanya tutup deodoran, dihirupnya, mm … wangi seperti aroma ketiak mama pikir Lizzy. Perlahan diolesnya deodoran pada blus bajunya, sekali lagi diendusnya aroma, mm … Lizzy merasa Elona ada di dekatnya. Lamunannya tersentak ketika suara Vivi menegurnya dari arah pintu kamar.

‘’ Ngapain Lizzy?’’ ‘’Mau pake deodoran mama.’’

‘’Lizzy darling, ingat gak apa kata ibu guru di sekolah?’’ Lizzy menganggukkan kepalanya.

Lanjut Vivi, ‘’perhiasan, terus apalagi yang gak boleh dipakai kesekolah Liz?’’

‘’Parfum,’’ sahut Lizzy.

Vivi mencium kepala Lizzy, ‘’saat ini Lizzy belum memerlukan deodoran. Nanti kalau sudah kelas delapan.’’

‘’Kalau pergi olah raga ya oma,’’ ucap Lizzy.

Vivi menganggukan kepalanya, merangkul Lizzy dan berdua melangkah meninggalkan ruang kamar tidur Elona.

Kata Lizzy sambil melambaikan tangannya ke ruang yang kosong, ‘’mama ,Liz pergi ke sekolah dulu ya.’’

Vivi trenyuh menarik nafasnya dengan berat melihat adegan ini. Sementara telepon genggamnya berdering.

‘’Viv, sebentar siang, jam setengah satu biar kita yang ambil Sem dan Lizzy dari sekolah ya,’’ terdengar suara Bert dan Sherly orang tua Fred menawarkan bantuan.

‘’Okay, tapi ada pesan,’’ tambah Vivi.

‘’Sem dan Lizzy hari ini gak bikin janjian untuk main di rumah teman, sebentar sore mesti ke dokter gigi.’’ Vivi mengingatkan.

Dari arah ruang tengah terdengar musik film cartoon Pink Panther.

‘’Sem, matikan televisi, ayo mana tasmu. Sudah pukul delapan lewat lima, nanti kalan terlambat,’’ Vivi mengingatkan.

Lizzy dan Sem menyambar tas sekolah mereka di atas meja dekat mebel, sementara Cleo sibuk mencari rimnya. Vivi mengalungkan rim di leher Cleo. Sambil menggandeng Lizzy mereka berjalan menuju arah sekolah. Sepanjang jalan berkali-kali Cleo harus berhenti untuk mengangkat kakinya, kencing.

Di tengah jalan Lizzy berhenti hendak memetik bunga liar yang tumbuh di pinggir jalan.

‘’Liz, biarkan bunganya, jangan dipetik, kasihan,’’ ucap Vivi.

‘’Knapa oma?’’

‘’Biar pinggir jalan jadi cantik.’’

Senyum Lizzy melebar, dua gigi ompongnya menghiasi sebaris gigi depan.

Lagi-lagi Cleo mengangkat kakinya, kencing. Sesekali menyalak kalau melihat anjing lain sedang berjalan dengan tuannya. Kali ini dengan kuat Cleo berusaha berlari ke arah anjing yang lain, sampai Vivi harus menarik rimnya dengan kuat.

‘’Cleo, stop!’’ perintah Vivi.

Sem mengelus kepala Cleo sambil sesekali menepuk punggungnya.

Terlihat kerumunan orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka sudah berkumpul di luar pintu pagar sekolah. Vivi mencium kening Sem dan Lizzy.

‘’Sem, Lizzy, sebentar siang kalau istirahat, opa Bert dan oma Sherly datang jemput ya,’’ Vivi memberitahu.

Kedua anak menganggukan kepala mereka dan terus berlari mencari teman-teman mereka. Tepat pukul setengah sembilan lonceng sekolah berbunyi. Anak-anak pun berkumpul, berbaris sesuai dengan kelas mereka sementara bapak dan ibu guru berdiri di depannya. Dengan teratur dan patuh anak-anakpun berbaris satu persatu masuk ruang gedung.

Tiba-tiba Sem keluar dari barisan, berlari ke arah Vivi yang masih menunggu di luar pagar sekolah.

”Oma, kentang goreng ya,” rengek Sem. Vivi mengacungkan jempol tangan sambil mengedipkan matanya.

Vivi tetap menunggu mereka. Dari jauh Lizzy melambaikan tangan ke arah Vivi, dan Cleo pun ikut-ikutan menyalak ingin masuk ke dalam pekarangan sekolah. Mata Vivi tetap memandangi barisan anak-anak sekolah sampai mereka menghilang masuk ke dalam.

Sambil menghela nafas yang dalam Vivi menarik rim Cleo dan berbalik arah untuk pulang ke rumah, namun baru beberapa langkah terdengar namanya tiba-tiba di panggil oleh seseorang. Terlihat ibu guru Sem berlari kecil keluar pintu pagar sekolah menghampiri Vivi.

‘’Belum ada berita?’’ sapa Sandra.

Vivi menggelengkan kepalanya.’’Belum, besok rencananya pihak perusahaan mau datang, tapi mereka akan telepon lagi untuk beritahu jam berapa,’’ Vivi menjelaskan.

‘’Apakah nanti malam ada waktu untuk bicara lewat telepon?’’ tanya Sandra.

‘’Jam berapa?, lebih bagus di atas jam sembilan malam kalau anak-anak sudah tidur,’’ pinta Vivi.

‘’Okay, ada hal yang penting ingin disampaikan,’’ sambung Sandra. Percakapan hanya pendek saja, oleh karena Sandra harus cepat kembali ke ruang kelas.

Di tengah perjalanan pulang, Vivi mampir sebentar masuk ke toko untuk membeli roti dan selai stroberi. Dicancangnya Cleo pada pagar besi yang ada di samping toko.

‘’Cleo, tunggu ya!’’

Vivi mengatur kembali pakaian Sem dan Lizzy ke dalam lemari pakaian mereka masing-masing. Sejak Elona menghilang empat bulan ini, Vivi berpindah tempat tinggalnya ke rumah Elona. Anak lelaki Vivi, Bram tinggal di Canada. Bram telah menikah dengan putri seorang pengusaha peternakan sapi, Roxanne. Bersama mereka memiliki dua anak lelaki, Antoine dan Ethan.

Tiap dua tahun sekali Bram datang mengunjungi Vivi dan Elona di Belanda. Karena kesibukan pekerjaan pada peternakan mertuanya membuat Bram tidak memiliki waktu banyak untuk bolak-balik pergi ke Belanda. Sekali pernah Bram mempunyai rencana akan merintis cabang perusahaan mertuanya di Belanda, tetapi terhenti karena persoalan izin.

Prang!

Piring hiasan di dinding tiba-tiba jatuh ke lantai, pecah.

Cleo menyalak, lari masuk ke kolong meja sampai terkencing-kencing.

Bersambung, …

Fiksiana.kompasiana.com , novel ”labirin waktu-6”

 

Dit bericht was geplaatst op maart 18, 2017, in Novel en getagd als .

Labirin Waktu (5) … (novel)

Dua orang berseragam membuka topi mereka dan melangkah masuk. Salah satunya memegang sebuah map.

Terlihat Eduard, pemilik restoran menyambut kedua orang berseragam ini. Dan Elona memastikan pada dirinya sendiri, bahwa kedua orang tamu ini pastinya dari bagian kepolisian.

Eduard berbincang serius dengan kedua tamu polisi, dan menyerahkan secarik kertas. Setelah itu tangannya menunjuk ke arah dimana Elona sedang duduk di salah satu ruang pojok restoran.

Ketiga orang ini, kini berjalan menuju arah Elona dengan diiringi pandangan mata para pengunjung restoran yang lainnya.

Sementara anjing pudel kecil dari wanita menyalak, suaranya nyaring memekakkan telinga. Wanita berusaha untuk menenangkan sambil mengggendong dan meletakkan pada pangkuannya. Suara anjingpun mereda, hilang. Wanita mengelus-elus kepala anjing.

Pandangan mata kedua pria di ujung bar terus mengikuti langkah ketiga orang tersebut. Sesekali terlihat pundak mereka dinaikkan, seakan-akan mereka bisa membaca ada sesuatu yang tidak beres pada tamu Elona yang kini harus berurusan dengan dua orang polisi.

‘’Selamat siang,’’ sapa mereka.

‘’Siang,’’jawab Elona pendek.

Setelah Eduard mengenalkan kedua polisi pada Elona, ia meninggalkan mereka dengan pesan kepada seorang polisi yang lain, kalau ada sesuatu yang diperlukan bisa memanggilnya. Polisi pun mengangguk.

Elona melirik nama yang terpasang pada kedua pakaian di bagian dada kedua polisi, yang satu bernama Steve, dan yang lain Eric.

Keduanya mengulurkan tangan memperkenalkan diri dan langsung mengambil tempat di dekat meja dimana Elona duduk.

Polisi Steve membuka pembicaraan.

‘’Kami mendengar berita dari pemilik restoran bahwa anda mengalami apes kendaraan dan kemudian ikut menumpang dengan mobil orang lain, yang akhirnya anda sampai di tempat ini. ‘’

‘’Yap, betul,’’ sahut Elona pendek.

Sekarang bergantian polisi bernama Eric mengajukan pertanyaan pada Elona.

“Menurut laporan yang kami terima, anda tidak mengenal lagi atau lupa dimana tempat tinggal anda, apakah itu benar?”

‘’Tidak benar!’’ cepat suara Elona menyambar.

‘’Ceritakan!’’ pinta polisi Steve.

‘’Saya sudah sampaikan nama alamat tempat tinggal saya untuk pria dan wanita yang kendaraannya saya tumpangi. Mereka bilang pada saya, Okay nanti kita antarkan.’’

‘’Tapi, tidak diantarkan, malah kesasar sampai di sini,’’ sambung Eric sambil menyipitkan pandangan matanya pada Elona.

‘’Ya, saya tertidur, jadi saya tidak memperhatikan jalan apa yang mereka tempuh,’’ bela Elona.

‘’Anda tau dimana anda sekarang ini?’’ tanya Eric.

‘’Tidak!’’ timpal Elona. ‘’Justru waktu kami bertiga membaca peta pada papan informasi di pinggir jalan di seberang sana, tidak ada nama daerah tempat tinggal saya.’’ Elona melanjutkan.

‘’Apa nama daerah tempat tinggal anda?’’ ulang Eric.

‘’Weert,’’ pendek Elona menjawab.

Steve dan Eric bertukar pandangan, dan kembali bertanya pada Elona apakah Elona memiliki tanda identitas diri yang sekiranya dapat membimbing ditemukannya alamat dimana tempat tinggalnya.

Elona memberitahu bahwa dimana barang-barangnya dia juga tidak tahu.

Polisi Steve beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju arah meja resepsionis. Di sana ia berbincang dengan salah satu karyawan, tak lama kemudian muncul Eduard. Belum sampai lima menit Eduard muncul dengan membawa barang-barang Elona dan menyerahkannya pada Steve.

Ketika Steve meletakkan barang barang tersebut di atas meja, dengan cepat Elona menyambar tas kerjanya.

Sebuah kartu identitas diri ditariknya, keluar dari sela ruang dompetnya. Elona kemudian memberikan kartu identitas ini pada kedua orang polisi tersebut.

Polisi Eric mencatat pada map yang ada pada dirinya. Kemudian setengah berbisik pada koleganya, Steve. Terlihat Steve menganggukan kepala tanda setuju.

‘’Begini saudara Elona, kami pikir akan lebih baik dan nyaman bila anda ikut dengan kami ke kantor polisi bagian distrik. Di sana anda bisa istirahat dengan nyaman, tersedia ruang khusus, sambil kami mencari jalan menolong menemukan alamat anda,’’ Eric berkata.

Elona menyetujui, dan memberitahu bahwa ia akan bayar makanan dulu sebelum pergi. Steve dan Eric menolong membawakan sisa barang Elona; jas, selendang dan laptop kerjanya. Elona bergegas menuju kasir untuk membayar. Eric dan Steve mengikutinya dari arah belakang.

‘’Berapa harga yang harus saya bayar?’’ tanya Elona pada kasir restoran.

‘’ 3Dish,’’ jawabnya.

Elona mengulang, ‘’please in Euro, how much?’’

Mata karyawan tak berkedip dan sedikit bingung. ‘’Ya, 3Dish,’’ jawabnya kembali.

Kini giliran Elona yang terkesiap. Kedua polisi distrik mendengar percakapan mereka sambil bergantian bertukar pandang.

‘’Dish itu mata uang darimana, Indiakah, Pakistan atau Afghanistan?’’ tanya Elona.

Karyawan semakin bingung dan memanggil Eduard lewat telepon di sampingnya. Sekali lagi Elona bertanya, namun jawabannya tetap 3Dish.

Putus asa Elona kembali menimpali, ‘’dalam Euro please?’’

Sekali lagi mata kasir tak berkedip dan wajahnya pucat pasi, sementara itu datang Eduard berlari-lari kecil. Setelah mendengar penjelasan karyawannya, Eduard menyampaikan pada Elona bahwa untuk kali ini Elona tidak usah membayar.

Sambil tersenyum Eduard menimpali, ‘’servis kami.’’

‘’Nggak, saya tetap mau bayar sendiri!’’ ucap Elona.

‘’Dish itu mata uang apa? ini saya bayar dengan mata uang Euro, mau gak?’’ diberikannya selembar uang kertas berwarna biru dengan gambar nominal €20.

Kali ini giliran Eduard terperangah ketika melihat satu lembar uang kertas berwarna biru dengan tanda yang asing €20. Belum pernah seumur hidupnya Eduard melihat mata uang asing seperti ini, dari negara apakah? Pikirnya dalam hati.

Dengan sedikit gerak takut sambil melirik pada kedua polisi yang berdiri di belakang Elona, Eduard menerima lembar €20 tersebut.

Elona menambahkan, sisanya boleh untuk Eduard saja. Pikir Elona, makan di Burger King lebih murah dari ini.

Bagi Eduard, lembar uang ini betul-betul unik. Belum pernah dia melihatnya apalagi mendengarnya. Tangannya gemetar ketika menerima. Kedua polisi di belakang Elona serta kedua lelaki di pojok bar lain menyaksikan kejadian itu.

Ketiga tamu ini kemudian berpamitan pada Eduard. Dan Steve salah satu polisi menyampaikan pada Eduard bila mereka membutuhkan informasi lanjut maka mereka akan menghubungi Eduard.

Dengan langkah gontai karena lelah dan pikiran kusut Elona berjalan menuju arah mobil kedua polisi, sambil Eric salah satu polisi memegang lengan bagian atasnya.

Elona mengambil bagian tempat duduk di belakang. Sebagian besar barang-barangnya oleh polisi di letakan dalam bagasi di belakang kendaraan.

Meluncur kembali ke tengah aspal jalanan, pikiran Elona masih juga kalut untuk bisa menerka dimanakah ia kini berada.

Baru saja sekitar delapanratus meter jaraknya dari restoran pinggir jalan yang bernama Pectopah, tiba-tiba dari kejauhan Elona melihat tempat pom bensin.

‘’Pom bensin, coba stop di sana. Pom bensin!’’ teriak Elona.

Steve dan Eric berpandangan. Eric kemudian mengalihkan kendaraaanya arah pom bensin.

Sesampainya pada pom bensin, Elona keluar dari mobil polisi dan berlari ke arah tempat parkir di samping pom bensin. Polisi Eric dan Steve mengikutinya dari belakang.

‘’Mobil saya di sini kemarin malam, di sini saya parkirkan setelah apes mogok’’ ujar Elona meyakinkan.

‘’Apakah anda mengenal yang mana mobil anda?’’ tanya polisi.

Mata Elona mencari mobilnya di antara barisan mobil lain yang sedang parkir baik di samping dan di belakang pom bensin, tetapi tak satupun Ford Escort tua miliknya yang kemarin malam dia parkir di situ terlihat.

‘’Wah, gak bisa dong nih, mobil saya parkirkan di sini kemarin malam,’’ setengah berteriak Elona menyampaikannya.

Untuk meyakinkan polisi, Elona meminta mereka untuk ikut masuk ke dalam toko pom bensin, agar bisa meyakinkan bahwa ia membeli sebungkus coklat Mars, pepermint dan soft drink rasa jeruk, gantungan kunci dengan boneka jerapah kecil serta pensil warna di toko.

Steve memerintahkan Eric untuk mengambil barang-barang belian yang Elona maksudkan sebagai bukti.

Tetapi, ketika mereka tiba di dalam toko, ternyata toko tidak menjual makanan yang Elona sebutkan. Bahkan sampai polisi bertanya kepada karyawan toko apakah mereka menjual makanan seperti coklat Mars, pepermint dan soft drink rasa jeruk, gantungan kunci dan pensil warna pun semuanya disanggah oleh karyawan.

Mereka menggelengkan kepala, dan menjawab yang mereka jual hanyalah koran, buku teka-teki silang ukuran kecil, peta jalan, minyak rem, dan shampoo untuk mencuci mobil. Mereka tidak menjual suvenir apalagi makanan dan minuman.

Putus asa Elona mencoba meyakinkan, bahwa kemarin malam dia bersama pria pengemudi dan wanita berbelanja makanan di toko mereka. bahkan wanita membeli roti dan kopi.

Sampai polisi bertanya pada Elona, apakah ia yakin bahwa pom bensin serta toko yang ia lihat kemarin malam itu yang sekarang ini.

Elona menjawab, ia tak sempat melihat nama pom bensinnya, tetapi tempat parkir di samping dan di belakang itu semua persis sama seperti tempat parkir pom bensin kemarin malam yang ia lihat. Pohon di sekitarnya juga sama.

Putus asa, lelah dan pikiran kusut ditambah lagi hampir seluruh mata melihat dirinya, Elona akhirnya berteriak, meraung. Ia menangis histeris dan panik. Pikirannya kini lari ke Sem dan Lizzy.

‘’Sem …. ,teriaknya, …Lizzy, … nyaring suaranya memecah ruangan toko.

Polisi bergegas memapahnya dan menuntunnya kembali ke arah mobil mereka.

Teriakan histeris Elona mengejutkan pengemudi lain yang sedang mengisi bensin. Juga mengejutkan pelayan toko dan orang-orang yang sedang ada di tempat parkir.

Dalam kendaraan Elona meraung, meronta, menendang, serta mencakar siapa saja yang mendekatinya.

Dengan cepat Steve menelpon seseorang.

Lunglai, Elona kembali tak sadarkan diri.

 

Bersambung, …

Fiksiana kompasiana.com, novel ”labirin waktu 5”

Dit bericht was geplaatst op maart 15, 2017, in Novel en getagd als .

Labirin Waktu (4) … (novel)

De Geest

Kekuatannya hilang, kedua lutut kakinya tak sanggup lagi menopang berat badannya. Lunglai Elona terjatuh, tak sadarkan diri, pingsan.

Pria dan wanita menjadi panik. Pria berlari ke seberang jalan, kembali arah restoran untuk mencari pertolongan. Sementara wanita mengibas-ngibaskan secarik kertas ke wajah Elona.

Tak lama kemudian berdatangan tiga orang dari arah restoran. Mereka mengangkut Elona dan membawanya masuk restoran diikuti oleh pria dan wanita.

Pada sebuah gudang ruang di belakang, tempat untuk menyimpan kursi serta meja mereka letakkan dua meja berdampingan, dan meletakkan Elona di atasnya.

Wanita tak henti-hentinya mengipas-ngipas kertas ke wajah Elona. Sementara pria mengambil barang-barang Elona dari mobilnya dan membawanya masuk ke restoran.

Pemilik restoran berusaha menenangkan suasana sambil melemparkan pertanyaan berulang-ulang kepada wanita dan pria pengemudi.

Mereka menjelaskan kisah awal pertemuannya dengan penumpang yang bernama Elona, yang samasekali mereka tak mengenalnya.

‘’Dia sendiri yang melambaikan tangan ke kita di pinggir jalan,’’ ujar wanita.

‘’Sebenarnya, kita malas berhenti sebab waktu sudah malam, dan kita juga mesti melanjutkan perjalanan. Tapi yah, kita kasihan, gak sampai hati melihat seorang wanita digelap malam begitu, sudah mana sendirian lagi,’’ tambah pria melengkapi kisahnya.

Mereka juga cerita kalau mobil Elona mogok.

‘’Iya, accunya kosong, jadi dia lagi tunggu mobil unit yang akan menolongnya,’’ wanita menyambung.

‘’Kenapa dia jadi ikut dengan kalian?’’ tanya pemilik restoran.

‘’Kita yang tawarkan untuk simpan mobilnya di tempat parkir di pom bensin saja biar aman, terus kita tawarkan kalau mau nanti kita akan antarkan ke alamatnya,’’ kata pria.

Bergantian pandangan mata pemilik restoran melihat antara pria, wanita dan Elona yang masih terbaring tidak sadarkan diri.

Pemilik restoran memerintahkan dua pegawainya agar segera kembali ke tempat pekerjaannya.

‘’Itu barang-barang dia ya?’’ tanya pemilik restoran pada kedua tamunya.

‘’Betul, saya bawa kemari, ‘’ ucap pria.

Terlihat pemilik restoran memindahkan barang-barang Elona yang terletak di atas meja dan memasukkannya pada sebuah laci lemari dan menguncinya.

Tak lama, terlihat Elona mulai siuman. Matanya mencari-cari menyapu atap plafon ruangan. Ketika matanya tertuju pada sebuah lampu ruangan yang masih menyala, terlihat ia memejamkan mata karena silau.

Ketika mata Elona melihat sosok tubuh pria dan wanita serta pemilik restoran, histeris dia berteriak.

‘’Tolong, … tolong, …!”

Bergegas pemilik restoran, pria dan wanita menghampirinya.

‘’Hei, tenang, … tenang, … ‘’ ujar pemilik restoran.

Mereka bertiga berusaha menenangkan Elona, dan pemilik restoran menawarkan pada Elona, ‘’mau minum?’’

Elona menganggukan kepalanya dengan berat, ia merasa kepalanya sakit. Matanya berkunang-kunang dan lehernya kaku.

Pemilik restoran menuju ruangan lain, dan kembali dengan segelas air putih. Wanita membantu Elona untuk duduk dan pemilik restoran memberi segelas air putih kepadanya.

Elona mereguk air di gelas, terasa air sejuk mengalir mencari jalan dari mulutnya melewati tenggorokan, kemudian memenuhi ruang perutnya. Terasa air ini menenangkan urat syaraf yang menegang dan terasa sakit pada kepalanya perlahan mereda. Matanya tak lagi berkunang-kunang.

Dihabiskannya sisa air dalam gelas.

Diaturnya nafas dan mencoba secara diam-diam mengingat kembali kronologis kisah mengapa ia sampai di tempat asing ini. Apa nama tempat ini? dimana? dan mereka bertiga itu siapa?

Elona melirik arlojinya, ‘’shit!’’ Arlojinya mati.

‘’Jam berapa sekarang?’’ tanya Elona kepada mereka.

‘’Sebelas lebih seperempat pagi,’’ sahut pemilik restoran.

Tangis Elona meledak lagi, secepat kilat pikirannya terbang mengingat Sem dan Lizzy. Bertubi-tubi macam-macam pikiran kini memenuhi rongga otaknya.

Sangat pilu memikirkan betapa ia tinggalkan anak-anaknya sendiri. Tiba-tiba Elona ingat ibunya, Vivi. Moga-moga oma datang menemani Sem dan Lizzy, moga-moga Sem telepon oma untuk datang menemani agar mereka tidak sendirian.

Moga, moga, … dan entah moga apalagi yang kini memenuhi harapan Elona.

Elona berdoa, moga Tuhan melindungi anak-anaknya dan mamanya. Elona sendiri tidak tahu dimana ia kini.

Pemilik restoran, pria dan wanita berusaha menenangkan Elona.

Dengan ujung lengan bajunya Elona menyisik air dari hidungnya dan air mata di pipinya.

‘’Kenalkan, Eduard,’’ pemilik restoran mengulurkan tangan memperkenalkan diri pada Elona.

‘’Elona, Elona Visser,’’ lirih suara balasnya.

Tiba-tiba, pria dan wanita menyampaikan bahwa mereka harus melanjutkan perjalanan mereka. Sekitar enam jam lagi perjalanan harus mereka tempuh.

‘’Kami harus tinggalkan kamu di sini,’’ sahut pria pengemudi.

‘’Lebih baik kamu kontak dengan polisi untuk membantu mencari alamat kamu,” kata wanita yang juga di iyakan oleh pemilik restoran.

Elona hanya terpaku, tak menjawab.

Terlihat pemilik restoran bercakap dengan pria dan wanita.

Kata pria, ‘’ini nama kami dan alamat serta nomor telepon.’’ Catatan kecil itu diterima oleh Eduard, pemilik restoran.

Sementara pria dan wanita berjabat tangan dengan Eduard, mereka berdua menghilang di balik ruangan dan pergi meninggalkan restoran.

Eduard kembali ke ruang dimana Elona masih juga terduduk di ajas meja.

‘’Begini, sambil beristirahat di ruang lain apakah kamu mau makan atau minum, nanti saya menyuruh karyawan menyiapkannya.’’ Eduard menawarkan.

Elona mengangguk, dan bertanya apakah dia boleh ke kamar toilet.

Eduard menunjuk arah jalan ke ruang dimana ada toilet.

Elona mengenakan kembali sepatunya, dan sambil dipapah oleh Eduard. mereka berdua berjalan melewati sebuah gang menuju kamar toilet. Eduard meninggalkan Elona dan berkata, setelah selesai silahkan ke ruang tengah dimana ada restoran, sambil ia menunjuk ke arah ruang pojok di sebelah kanan ruangan.

‘’Kamu duduk saja istirahat di situ ya. Saya akan buatkan sup untuk kamu,’’ kata Eduard.

Namun tawaran sup Eduard ditolak oleh Elona, malah Elona balik bertanya, ‘’boleh pesan sandwich dan satu kopi pahit?’’

‘’Tentu.’’ Eduard segera memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan.

Di ruang toilet Elona terpaku memandang dirinya di depan cermin. Rambutnya acak tak karuan. Makeupnya sudah luntur karena air matanya. Lipstik di bibirnya sudah mencoreng sebagian ujung mulutnya dan warnanya sudah pudar tidak karuan.

Diputarnya kran air. Dibasuhnya wajah, segar. Karena tak terlihat dispenser untuk kertas toilet, Elona mengeringkan wajah dengan ujung roknya.

Komplit sudah penampilannya kini, semua sudah tidak karuan. Pakaian, rambut dan makeupnya, semua kusut.

Dengan jarinya Elona mengatur tata rambutnya dan membasahi sedikit poni rambutnya, juga rambut sekitar kedua telinganya. Pikirnya, begini terlihat sedikit segar.

Keluar dari ruang toilet, dengan berjalan perlahan Elona menuju arah ruang tengah restoran. Cepat dia mengambil tempat di meja yang sudah Eduard sediakan untuknya.

Pandangan beberapa pengunjung restoran hanya sekilas saja kepada Elona, setelah itu mereka kembali dengan kesibukan mereka.

Terlihat hanya beberapa pengunjung saja. Mata Elona menyapu melihat pengunjung restoran.

Pada sebuah meja untuk dua orang terlihat seorang wanita duduk sendiri. Rambutnya keriting warna tembaga gelap sepanjang bahu. Wanita duduk sambil melipat kedua tangannya di atas meja.Pandangannya kosong ke arah luar. Setengah gelas air berwarna seperti teh masih tersisa di atas mejanya. Ada payung kecil dengan pinggir berenda di pinggir kursinya. Sementara di dekat kakinya duduk seekor anjing pudel kecil berwarna tiga, coklat, putih dan oranye.

Pada pojok sebelah kiri terlihat bar minum. Disana terletak empat kursi bar dengan kaki yang tinggi. Terlihat dua pria duduk sambil bercakap serius sambil menikmati minuman berwarna coklat gelap, seperti cocacola atau bir hitam.

Sesekali pria yang satu mengetuk-ngetuk jari tengah dan telunjuknya pada meja bar, seakan-akan sedang memainkan piano. Sesekali dia melirik melihat Elona di pojok yang lain.

Eduard datang menghampiri Elona yang lagi menunggu sandwich dan kopi hitamnya, dan memberitahu bahwa sebentar akan datang dua orang polisi yang akan membantu Elona.

Elona menganggukan kepalanya.

‘’Apa nama tempat ini, mm … maksud saya jalan di depan sana?’’ tanya Elona pada Eduard.

”Restoran ini namanya Pectopah dan jalanan di depan sana namanya Cranes,” ujar Eduard.

Elona mencoba mengingat-ngingat sendiri dimana kira-kiranya jalanan bernama Cranes.

Aroma sandwich hangat dan kopi hitam menyentak lamunannya.

Secuil demi secuil makanan itu masuk ke mulutnya. Elona terperanjat, rasa sandwich demikian enaknya. Belum pernah Elona makan sandwich seenak seperti ini. Malah dia kini membandingkan dengan sandwich dari Mc Donald yang sering dia pesan bersama kolega kantornya. Rasanya malah sangat berbeda.

Dengan hati-hati diangkatnya cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap panasnya.

Wow, … air kopi begitu nikmatnya. Belum pernah Elona minum kopi hitam seenak seperti ini. Rasanya sangat lain.

Elona masih terbengong-bengong membandingkan apa saja yang ia lihat dan rasa. Pertama-tama air putih segar, kemudian rasa sandwich enak, dan kini kopi yang nikmat.

Tiba-tiba pintu restoran terbuka.

Bersambung, …

Fiksiana.kompasiana.com, novel ”labirin waktu-4”_

Dit bericht was geplaatst op maart 5, 2017, in Novel en getagd als .

Labirin Waktu (3) … (novel)

 

De Geest

Hendak bertanya kepada pria pengemudi, tiba-tiba Elona terhempas ke kiri dengan kuat hingga ia harus berpegangan pada pegangan pintu dan pinggir jok bangku pria pengendara.

Elona merasa kendaraan kini menempuh jalan yang berliku-liku.

Kini pemandangan di luar sana hitam pekat, hanya sesekali warna kuning melesat.

Baru saja mulutnya terbuka hendak bertanya, lagi-lagi tubuhnya terhempas ke kanan, terlihat sepatunya ikut bergulir ke arah kanan.

Dalam gelap ruang, dilihatnya si wanita memandang lurus ke depan. Kini ia tidak lagi bercakap-cakap dengan pria pengemudi.

Dicobanya untuk mengintip arah di belakang lewat kaca di dalam mobil, terlihat gelap gulita dan samar-samar guratan cahaya. Air hujan yang deras pada kaca jendela belakang kendaraan menghalangi pemandangan Elona.

Kantuk yang berat kini memaksa Elona menyerah, mulutnya tak kuasa lagi bertanya pada pria pengemudi. Belum lagi dalam hitungan detik Elona sudah hilang, lenyap dalam mimpi.

Dalam mimpi terasa tubuhnya bergoncang ke sana ke mari. Namun, sedikitpun ia tak merasa mual.

Dalam mimpi terdengar suara-suara, ada tawa, ada teriak, musik dengan irama yang janggal. Belum pernah Elona mendengar suara musik seperti ini. Sangat jauh terdengar namanya di panggil.

Dalam mimpi tercium aroma rumput segar, wangi bunga-bunga liar dan manis buah-buahan. Begitu manisnya tercium sampai tenggorokan serasa haus.

Tak ada mimpi soal Sem dan Lizzy, apalagi Cleo, tak ada soal modul 3 tipe 3, apalagi acara barbecue-an.

Dalam lelap yang dalam, Elona mengelana di dunianya tanpa terputus. Terdengar suara yang sangat jauh, terdengar alunan musik yang aneh. Ingin membuka matanya namun seakan-akan lem merekatkan rapat kedua matanya.

Dibiarkan tubuhnya terhempas ke sana ke mari.

Dalam mimpi terlihat mosaik album, antara foto dan film. Bergantian album ini berputar seperti cerita dalam sebuah buku. Terkadang tak urut meloncat dan kembali ke awal. Terkadang berhenti di tengah, dan harus mengendap suatu lorong dan akhirnya harus mengintip pada lobang kunci pintu. Tayangan yang sangat melelahkan, frustasi.

Mimpi Elona kali ini bermandi cahaya. Terlihat banyak sekali cahaya timbul dan silam. Ada cahaya putih yang silau campur kuning, tetapi terasa jauh seperti di dalam sumur, yang menbuat pinggir lorong bias tak jelas.

Tiba-tiba Elona berdiri di pinggir suatu tebing yang sangat terjal dan berbatu. Matanya menyapu pemandangan semesta dari atas tebing. Pucuk pohon seakan-akan hamparan ladang rumput.

Mata Elona bisa berkelana, ajaib!. Lewat gunung, laut, sungai, atap rumah bahkan meloncat dari satu puncak pohon ke pohon yang lain. Pikirnya dalam mimpi, sejak kapan aku bisa terbang begini?

Mimpinya memang aneh.

Tiba-tiba ia melihat Freddy, suaminya.

Terlihat Fred tertawa sambil mencipratkan air ke wajah Elona. Mereka berlomba berenang ke arah seberang sungai yang kecil.

‘’kejar aku Lona, yang kalah bikin bersih kamar mandi, ha ha ha’’

Gema gelak tawa Fred memancing emosi Elona. Tawa Fred terdengar cepat sekali seperti Elona mencari gelombang frekuensi radio di mobilnya.

Kini, … berganti wajah Fred begitu murung.

Air mata membasahi pipinya. Fred meringis. Belum pernah Elona melihat Fred menangis selama mengenalnya. Tangisan Fred menahan rasa sakit. Dalam mimpi tanpa sadar Elona merasakan apa yang Fred rasakan, sakit.

Fred terlihat memukul-mukul kepalanya, membenamkan wajah dengan bantal. Elona menariknya, membenamkan kepala Fred pada dadanya. Sambil mengelus punggung Fred, Elona berusaha memberi Fred semangat.

Pada film yang lain, terlihat Fred tertidur pulas. Matanya rapat. Lingkaran lebam biru hitam menggelantung di bawah kelopak matanya.

Tak ada sehelai rambut bahkan alis mata sekali pun, semua kelimis, botak!

Bibirnya yang biru kehitaman, terkatup rata. Seakan tak akan pernah keluar lagi ucapan kata-kata.

Fred akhirnya pergi seorang diri, tanpa pamit meninggalkan Elona, Sem dan Lizzy. Pergi ke negeri seberang, negeri yang suatu saat Elona, Sem dan Lizzy juga akan mengunjunginya.

Elona berlari, … terus berlari … seakan terbang dan sanggup menjelajahi gunung, sungai dan hutan.

Sekencang angin Elona berlari, tiba pada lahan tak bertuan, kering, dan tandus.

Elona terhempas, lunglai dan lemas. Ingin berteriak, namun terasa tenaganya habis.

Matahari demikian kuningnya membakar semua yang ada. Terasa panas menyengat kulit wajah. Elona merasa sangat haus, tenggorokannya kering dan perih bila menelan sisa air liur sendiri.

Ketika mata Elona terbuka, ia langsung terhenyak di bangku belakang mobil. Pria pengemudi dan wanita tak dilihatnya. Mobil lelaki tambun ini terparkir di pinggir jalan begitu saja. Kemana mereka, pikir Elona.

Kini Elona benar-benar terbangun dari mimpinya.

‘’What….!‘’ Elona tersentak.

Matanya tertuju pada dua orang di seberang yang sedang berjalan menuju arah mobil yang ia tumpangi. Pria pengemudi dan wanita. Wanita menjinjing tas kertas, sementara pria memegang sebotol minuman.

Elona mengucek matanya. Panik melanda dan hyperventilasi mulai menyerang.

Pria dan wanita sepertinya baru saja keluar dari sebuah rumah makan atau restoran.

‘’Halo’’ sapa pria, ‘’nyenyak tidurnya?’’

‘’Rupanya kamu tertidur sepanjang perjalanan’’, timpal si wanita.

‘’What!’’ hampir tak percaya pendengarannya Elona terus mengucek kedua matanya, dan mencoba meluruskan pikirannya.

‘’Ini dimana? jam berapa ini?’’ Elona bertanya.

Dadanya terasa sesak dan matanya mulai berkunang-kunang. Ingatannya langsung pada Sem dan Lizzy.

‘’Are you okay?’’ sapa wanita.

‘’ Sialan kalian, ini dimana!’’ hardik Elona histeris. Pria dan wanita tambah terkejut memandang Elona.

Pria pengemudi menjelaskan bahwa mereka justru lagi mencari alamat yang Elona berikan kemarin malam. Pada papan peta informasi di pinggir jalan tidak tertera daerah yang Elona sebutkan, Weert.

‘’What!, … o my God’’ rintih Elona, ‘’dimana aku ini?’’teriaknya lagi.

Elona meronta, berteriak minta tolong. Tapi sekitarnya tetap sepi, hanya kedua orang itu saja, pria pengemudi dan wanita. Tak terlihat kendaraan atau motor atau sepeda yang lewat, apalagi manusia yang sedang berjalan.

Dengan sabar pria dan wanita menjelaskan kepada Elona, bahwa mereka tidak mau mengganggu lelap tidurnya. Mereka mengerti bahwa Elona demikian letihnya, sebab itu mereka memutuskan sendiri untuk mencari alamat yang Elona sebutkan.

‘’Kalau gak percaya, come! mari kita lihat pada papan informasi di seberang sana,’’ ajak pria.

Tak mengindahkan sepatunya, Elona meloncat keluar dari mobil tanpa sepatu. Berlari mereka bertiga menuju papan peta informasi di pinggir jalan.

Kepala seperti dihantam gada dan kena sambar halilintar. Elona merasa bumi tempat ia berpijak hanyut terhisap ke bawah, amblas! 

(bersambung)

Fiksiana.kompasiana.com, novel ”labirin waktu-3”

Dit bericht was geplaatst op februari 28, 2017, in Novel en getagd als .

Labirin Waktu (2) … (novel)

De Geest

Dihempasnya tubuh pada bangku belakang mobil. Serasa empuk sekali.

Pegal, linu, mual di perut dan penat pada pantat dan pinggul karena terlalu banyak duduk di kantor terasa sirna. Nyaman, seakan-akan duduk di atas kapas atau awan.

Sambil mengurut betis kaki kirinya yang penat, ia melepaskan kedua sepatunya.

Kedua kaki ia luruskan, rileks. Ternyata ruang di bangku jok belakang ini begitu lumayan besarnya. Sampai kaki diluruskan pun ujung jari belum juga menyentuh bangku jok bagian depan.

Pikir Elona, belum pernah naik mobil yang ruang penumpang bagian belakangnya luas begini.

Digosok-gosoknya tumit pada alas karpet, lembut sekali bahan karpetnya. Masih juga terhenyak tak habis pikir, Elona mengkais karpet dengan ujung jari-jari kaki telanjangnya. Dalam hati, ini alas karpet buatan pabrik darimana, empuk, halus dan nyaman kena raba hanya dengan kaki.

Kalau saja Elona berani dan tebal muka, kepingin rasanya langsung rebahkan diri pada jok bangku belakang, sekedar meregangkan otot-otot yang lelah.

Dan memang, sepertinya kedua kakinya bisa membaca pikirannya dan dengan tidak tahu diri maunya naik ke atas jok. Tapi, Elona berusaha kuat memerangi tindakan kaki yang kurang ajar ini. Pikir Elona, beginilah kalau pikiran sudah kelewat lelah.

Masih terbengong-bengong, diliriknya motif jok bangku yang ia duduki dan bangku di depannya.

Dalam kegelapan begini saja Elona masih bisa berdecak-decak menikmati indahnya motif bunga Lily Perancis yang terhampar di seluruh permukaan jok bangku. Warnanya abu-abu biru campur ungu. Di sela-selanya tersempil putik bunga warna kuning kepodang.

Belum pernah Elona melihat motif seperti ini. Elegan!

Saking terpana, sampai ia malu sendiri dengan dirinya. Seperti orang norak belum pernah naik mobil orang. Padahal berapakali dia sering nebeng mobil teman-teman sekantornya.

Elona mencoba mengingat merek apa kira-kiranya mobil yang kini ia tumpangi. Saking panik memikirkan anak-anak di rumah dan unit mobil penolong yang belum juga tiba, sampai Elona lupa melihat mereknya.

Ah, sudahlah pikirnya. Yang penting sekarang aku menuju arah rumah, pulang. Moga Sem mau menemani adiknya tidur. Lizzy memang masih belum berani tidur sendiri.

Masih juga terheran-heran untuk mengingat merek kendaraan, tiba-tiba saja ia dapat membandingkan suara mesin kendaraan milik pria ini. Seakan-akan roda mobil terbang tidak menyentuh aspal, empuk dan luar biasa halus suara mesinnya.

Kapan aku punya uang yang cukup untuk mengganti Ford Escort ku yang tua dan bawel itu, ya kapan? Gerutunya dalam hati.

Merek mobil yang ia tumpangi ini sepertinya sempurna. Isolasi dalam mobil demikian bagus hingga piruk pikuk angin di luar sana serta suara kendaraan lain tak banyak yang masuk. Belum pernah Elona merasakan betapa suasana dalam mobil ini demikian tenang dan nyaman.

Kalau saja Sem dan Lizzy ada juga bersamanya, pasti mereka terlena tidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan. Apalagi Cleo, pasti dia sudah mendengkur, mimpi berlari-lari di dunia anjingnya.

Diliriknya wanita sedang mengunyah roti, sambil berbicara dengan pria pengemudi. Entah apa yang mereka bicarakan. Sekali-kali tangan pria mainkan bahasa tangan.

Di luar sana … bayangan malam berkelebat, menyatu dengan aneka warna.

Elona menempelkan dahi pada kaca jendela, dingin kaca jendela menyejukkan kepalanya. Sementara mata ia picingkan agar bisa melihat fokus pemandangan di luar. Semua garis berbayangan halus.

Pikirnya, berapa kecepatan si pria melarikan kendaraan ini? Niatnya untuk mengintip dibatalkan karena terhalang dengan postur tubuh pria yang tambun.

Bayangan berkelebat cepat di luar sana, menyatu dengan aneka warna. Ada kuning, merah dan sekali-kali oranye. Malam yang gelap hanyalah latar belakang. Bias lampu jalanan kiri dan kanan terasa berkelebat berpapasan. Baru kali ini Elona bisa menikmati pemandangan yang indah seperti ini. Ternyata menjadi penumpang itu lebih asyik daripada harus konsentrasi memegang kemudi.

Tiba-tiba, …suara gemericik percik air menerpa keras kaca jendela, selayak kerikil batu kecil menghantam kaca.

Sepertinya di luar sana mulai hujan. Bintik-bintik air kini berubah menjadi siraman air yang menari menepi terpukul kencangnya angin, membuat pemandangan gelap semakin menawan tetapi juga mengerikan.

Mata Elona berair karena lelah, saking banyaknya sampai meleleh membasahi pipinya. Dengan pinggiran pelepah bagian leher baju diseka air matanya.

Rasa kantuk begitu kuatnya menyerang. Tak kuasa Elona melawannya.

Lelah, kangen, marah dan gembira karena pertolongan pria dan wanita baik hati ini semua menjadi satu. Seperti film yang diputar tetapi berlangsung terpotong-potong. Tubuhnya terhempas-hempas ringan sepanjang perjalanan. Terkadang terbang dan menukik ke bawah seperti burung yang sedang mendarat. Matanya tetap saja rapat terkatup.

Tiba-tiba Elona terbangun.

Wait, dimana ini?

(bersambung)

Fiksiana.kompasiana.com novel ”labirin waktu-2

Dit bericht was geplaatst op februari 24, 2017, in Novel en getagd als .