Ilusi Cinta … (cerpen-drama)

 

Berapakali aku mengunggulimu?

Tak jadi soal, 

apakah aku tertawa atau menangis

Kucari, pada tiap siku perasaan

Adakah cintamu untukku?

Acap bayang cinta yang kukejar,

saudagar semata

Menutupi pupil mataku,

bagai kelambu,

Durjana cinta pada hati yang merana

Dalam diri,

hati

Godverdamme!

Dihempasnya tas, sepatu dan jas ke lantai.

Prang! 

Suara piring terinjak kaki hewan berkaki empat, Kato, kucing Siam.

‘’Ah, Kato’’, keluh Vera.

Dielusnya kepala kucing, sementara Kato menyerudukan kepalanya, seakan memohon Vera berbuat lebih banyak untuknya.

Bulu kucing yang halus menghadirkan perasaan tenang yang damai. Dan dengkur suara Kato yang bergema di seluruh tubuhnya terdengar menyampaikan sinyal lewat sentuhan elusan tangan.

Memeluk kato lama seperti itu, bisa membuat Vera jatuh pulas, tertidur.

Jam dinding berdentang duabelas kali, mengejutkan kedua makhluk yang tertidur. Vera sadar, rupanya ia tertidur begitu saja pada bangku ruang tamu dengan Kato yang masih dalam pelukannya.

Diliriknya telepon genggam di bawah lantai dekat bangku, terlihat ada berita message untuknya;

‘’Hari Selasa, jam?’’ teks yang pendek.

Vera melayangkan pandangan matanya sejenak, di atas mebel terlihat bingkai foto, dirinya. Di sebelah, bingkai foto keluarga. Ada ibunya, kakak lelaki satu-satunya, hanya itu. Selama hidup belum pernah Vera lihat yang mana foto ayahnya. 

‘’Minggat!’’ pendek ucap ibunya.

Belakangan kisah, Vera mengetahui bahwa ibunya sendiri tidak pernah tau dimana tempat tinggal ayahnya.

‘’O, … lelaki pelaut itu, dia datang hanya untuk menanam benih, pergi seperti angin,’’ kata ibunya.

Vera terbiasa dengan kehidupan ini. Dilahirkan, tumbuh, kerja keras dan mencoba dari waktu ke waktu memahami apa sebenarnya hidup ini.Tak banyak sebenarnya, jalankan saja seperti air yang mengalir mengikuti kemana muara, tak jadi soal muara itu berkubang kotor, lautan atau sungai yang jernih. 

‘’Gak usah menagih hidup dengan janji, nanti kau kecewa,’’ pesan ibunya. 

Hari minggu, Vera menyempatkan diri datang ke tempat Yvone. Mereka berteman sejak duduk di bangku sekolah es de. Bertemu kembali ketika usia menginjak duapuluh lima tahun. Yvone, yang karyawati sebuah Bank swasta dan memiliki tiga anak dari perkawinan yang keduanya ini tetap menyediakan ruang persahabatan dengan Vera. Yang sering berkeluh kesah hanya Yvone, Vera jarang untuk bercurhat. Dirinya terbiasa kena tempa kerasnya kehidupan.  

‘’Hei Ver, kalau datang bawa salad, kita barbecue-an,’’ suara Yvone di telepon.

Blus warna putih dengan renda halus di pinggir leher serta celana panjang jeans, dan bersandal sepatu warna merah. Vera memeluk Yvone sambil menyerahkan salad yang dipesan. 

‘’Wah, banyak banget!’’ tanya Yvone.

‘’Ya udah, kalau lebih simpan di freezer,’’ timpal Vera.

Hari yang cerah. Ketiga anak Yvone asyik dengan mainan game Nintendo. Gasper, suami Yvone sibuk melayani minuman untuk para tamu, mereka melarang Vera untuk membantu.

Tiba-tiba Gasper, suami Yvone berjalan bersama dengan seseorang menuju ke tempat di mana Vera duduk. 

‘’Ver, ini kenalkan temanku.’’

‘’Frank,’’ lelaki itu mengulurkan tangannya.

Vera menyambut uluran tangan itu sambil berdiri dan mengenalkan dirinya sendiri. Sementara Yvone di dekat meja barbecue mengedipkan mata ke arah Vera.

Frank, kolega Gasper. Ia bekerja baru masuk tahun kedua di perusahaan penerbangan di mana Gasper bekerja. Hanya saja bagian keduanya berbeda, Gasper bekerja dengan shift pada bagian pengatur lalu lintas pesawat pada menara. Sedangkan Frank bekerja pada bagian marketing. Hampir setiap bulan Frank melakukan perjalanan ke luar negeri terkait bidang pekerjaanya. Setiap pelosok di seluruh dunia ini pernah ia kunjungi. Promosi jabatan yang akan datang sebagai direktur bagian marketing telah menunggunya.

Mata Vera lurus menatap beberapa anak rambut pada kening Frank, tiga warna keemasan menghiasi kepalanya.

Warna pirus bola mata Frank sangat mencuri perhatian Vera. Warnanya hampir sama dengan warna tepian pantai lautan. Ada keteduhan di sana. Beberapakali beradu pandang mata, membuat mereka salah tingkah sendiri. 

‘’Tinggal dimana?’’ basa basi Frank membuka perkenalan.

Vera merasa Frank duduk di sampingnya begitu dekat. Vera merasa, sesekali lutut dan paha Frank menyentuh samping kiri kakinya.

‘’Enam kilometer dari sini.’’ 

Sekali lagi tak sengaja warna pirus mata Frank menatapnya tajam, bahkan Vera merasa seakan menggetarkan aliran darahnya. Tiba-tiba wajahnya terasa panas. Malu kepergok kalau pipinya menjadi merah, cepat Vera mengalihkan mukanya ke arah lain. Namun, Frank lagi-lagi bertanya.

‘’Gimana, ada klien yang bandel?’’ 

Mereka tertawa berdua. Tiba-tiba Frank menangkap tawa Vera sangat menawan, baris gigi yang putih, rapih dan terawat membuat mata Frank tak putus-putusnya memandang senyum dan tawa Vera. Dan, tiba-tiba saja Frank merasa nyaman dengan harum sejuk wangi pakaian Vera. Angin perlahan mengirim hembus aroma ini ke hidung Frank. 

Selama tiga jam keduanya bercakap dengan tema yang sederhana. Sesekali Gasper dan Yvone menghampiri mereka.

Ketika akan berpisah, tak kuasa Frank menahan diri untuk tidak bertanya pada Vera, kapan lagi mereka bisa bertemu. Penampilan sederhana Vera telah mempesona mata pirus Frank.

—-

Pertemuan tak terhitung lagi antara Vera dan Frank. Di tengah kesibukan menjalankan tugasnya ke luar negeri, Frank selalu berusaha untuk bertemu dengan Vera. Cinta mereka bersemi, bertebaran hampir di pelosok dunia. Frank yang pertama menyatakan cintanya, ini kali ia tak kuasa untuk menahannya. Rantai status yang mengikat kakinya, berkali-kali ia langgar.

‘’Apakah kau tak mau bertanya siapakah aku ini Ver?’’ tanya Frank suatu hari ketika mereka ada di Malta.

Vera memandang mata pirus sambil bersandar pada bidang bahu Frank. Di carinya warna pirus yang lain pada mata Frank, tetapi pirus tak berubah.

‘’Untuk apa?’’ tanya Vera rileks.

‘’Kalau kau bercerita tentangmu, apakah kau berani tinggalkan mereka untukku?’’ suara Vera seakan palu hakim. 

Mata pirus Frank terhenyak, terdiam. Lurus dipandangnya tepian pantai laut Malta. Warna biru laut dan busa ombak yang bergulung, berlomba memukul tepian pantai ikut serta menghakiminya. Digelengkan kepalanya perlahan, seraya pirus pupil matanya jauh menerawang luasnya laut. 

‘’Mm … sudah kuduga,’’ sahut Vera pendek tak berbeban.

‘’Aku tak tega menyakiti mereka Vera. Tapi, aku juga tak mau kehilangan dirimu,’’ bisik Frank.

‘’Tapi, kau sanggup menyakiti aku,’’ jawaban Vera tajam menusuk kalbu Frank.

Vera tersenyum, dipandangnya horizon antara laut dan langit. Kilauan mentari pada permukaannya bagai berlian. Vera terbiasa tak memburu. Hidup tak usah dikejar dengan janji, pesan ibunya selalu mengiang di telinganya.

‘’Aku ingin kau membenciku Ver. Menampar atau memukulku, atau mengusirku. Supaya kita tak bertemu lagi.’’ Frank menekan suaranya seakan takut Vera segara meninggalkannya.

Dipeluknya Vera, seakan tak mau melepaskan. Namun, kehidupan nyata Frank tak memungkinkan ia memiliki Vera, terlarang!

Frank, tetap egois ingin memiliki Vera. Sementara Vera merasa ia bukanlah seseorang dengan harga mati. Biarlah kehidupan ini mengalir kemana arah muara, bagai burung terbang dari utara ke selatan ketika musim berganti.

—-

Seperti biasanya malam ini, sama dengan malam sebelumnya. Bahkan, tak berbeda dengan malam ketika Vera mengenal Frank untuk pertamakalinya. 

Ruangan itu sangat khusus. Warna dan dekorasinya dipilih dengan selera tingkat tinggi. Untuk hal ini, Vera sangat ahli.

Lukisan bunga Magnolia dalam ukuran besar dengan megahnya menghias dinding, tepat di atas tempat tidur. Dua buah lampu sorot dengan warna khas menerangi lukisan, menambah suasana ruangan demikian magis dan romantis.

Tempat tidur dengan ukuran yang besar dan super luxe memiliki banyak bantal warna-warni. Alas tempat tidur sama seperti lukisan pada dinding, bermotif bunga Magnolia dalam ukuran besar.

Di sebelah kiri terdapat lemari terbuka, aneka kostum aneh tergantung komplet dengan aksesorisnya.

Tak pernah ada orang yang masuk ke dalam ruangan ini, bahkan Kato kucingpun tak pernah. Hanya Vera. 

Pada meja di seberang tempat tidur, terdapat tiga layar monitor komputer dengan ukuran besar. Masing-masing monitor memiliki Webcam. Alat ini siap menjalankan tugasnya, sama seperti tugas rutin pada malam sebelumnya.

Monitor bekerja tanpa batas. Tak jadi soal hari libur atau hari raya, hari kematian atau hari kelahiran, hari keceriaan karena jatuh cinta atau patah hati nelangsa merana.

Satukali layar monitor menyala, maka dunia di luar sana tertutup. Yang ada hanyalah monitor dengan profil misterius. Tak ada wajah, yang terdengar hanyalah suara, memohon!

‘’Sedikit buka, … yah … oh, lihat, iya … ah … ke bawah sedikit,  ‘’ desah suara tak sabar lewat layar Webcam.

Dengan suara yang manja Vera mengulur waktu, membuat desah suara semakin meninggi. 

Sepintas Vera melihat cincin pada jari kelingking pemiliknya. Gerakannya teratur. Klimaks yang dibuatnya membuat perut Vera mual, ingin muntah. Cincin itu sangat dikenalnya, bahkan pemakainya menjeratnya dengan cinta yang beraroma nafsu frustasi, Frank.

Namun, Vera cepat sadar. Secepat komet terbang dari timur ke selatan, ia tau, bahwa Vera bukanlah tipe si terpuruk.

Desah-desah cinta itu kini berserakan. Muncrat, membasahi dinding klimaks kepuasan para pemesan.

Tak jadi soal, apakah suara itu milik Frank, Gasper, direktur tempat Vera bekerja atau siapapun dia. 

Rekening malam ini, mengalir seperti biasanya. Tak perlu tangisan itu, persetan dengan cinta sejati. Ini malam, Vera adalah tuan cinta. 

Webcam layar monitor kedua menyala, desah pemesan merayu menggoda,

‘’Dekatkan, …yah, … dekatkan, … iyah…yah,’’ desah itu mengiba memohon.

Vera terbiasa. Malam dengan pesanan secara online adalah rutin dalam kehidupan malamnya. Tak perlu kartu anggota club malam yang V.I.P. Tak perlu taksi khusus. Tak perlu temu wajah. Suara dan tombol menekan rekening ‘’pay’’ terbayar adalah penting. 

Cinta! tak pernah serius Vera pikirkan. 

Inilah kenyataan hidup, bercinta dalam kenyataan atau bercinta dalam khayalan. 

Pria-pria dengan egoisme dan libido yang tinggi. Setengah ada yang melarikan diri karena frustasi, setengah royal membelanjakan isi dompetnya demi kepuasaan seks. Beberapa diantaranya korban problem rumah tangga. Sesekali perjaka tulen mengorbankan uang rokoknya, hanya sekedar untuk mencoba, gimana sih seks online?

Webcam layar monitor ketiga menyala. Terdengar suara serak dan berat seorang lelaki. 

Tebak, berapa usianya, delapanpuluh satu!

–o0–

Foto cover ”Ilusi Cinta” Copyright 2015©RonOtt Photography. All rights reserved.

Fiksiana.kompasiana.com, drama ”ilusi-cinta”_

Hasrat … (puisi)

 

Apa yang akan kau lakukan,

bila aku pergi

Kau potong urat lehermu sampai putus!

Apa yang kau lakukan,

bila ku telanjang di depanmu

Kau usir akukah?

Atau, gairahmu duakali lipat dari birahiku

Kalau aku menamparmu,

marahkah kau?

Hunuskan belati Jarah ruang benakku

Apa yang kau lakukan,

bila ku lumat  bibirmu

Muntah serapahkah kau?

Atau, justru balik kau gigit lidahku

Liur semangatku,

menyuntik nadi-nadi

Katamu,

bayar saja dengan upeti hasrat

Kutatap serak-serak,

pertanyaan pada sampah imajinasiku

Sementara kau telanjang, mandi mentari di Madrid.

–o0o–

Foto ”Hasrat” Copyright 2014©RonOtt Photography. All rights reserved

Fiksiana.kompasiana.com puisi ”hasrat” 

 

Dit bericht was geplaatst op mei 18, 2017, in Puisi en getagd als .

Penghuni … (cerpen)

 

‘’Mencari fakta mana lebih dulu; lahir, baru hidup atau hidup dan kelahiran. Manusia bermain teka-teki kehidupan sesuka hati.

Lari kemana?

Fetus-fetus bermandi darah, hidup bergelimang misteri. Apa yang kita cari? 

Tanamkan saja kehidupan, lupakan makna

Meniru misteri alam, debu kembali ke asal, debu

Mati, akhir dari perjalanan 

Kamu,

Aku,

Kita semua

Pasti mati’’

Berkerumun orang mengitari tubuh yang tergeletak, sementara dua orang lelaki memerintahkan agar semua orang menjaga jarak, atau lebih baik bubar. 

‘’Coba jangan terlalu dekat!’’ perintah seseorang.

Ketika Ambulans tiba, bergegas dua perawat kesehatan menurunkan tempat tidur lipat, komplet dengan peralatan bantuan kesehatan. 

‘’Anda siapa?’’ tanya petugas ambulans.

‘’Saya orang yang tertabrak oleh wanita ini,’’ Ruben menjelaskan.

‘’Polisi sudah dikontak?’’ perawat bertanya.

‘’Ya sudah, mungkin segera tiba,’’ ucap Ruben lagi.

Korban tergeletak tak sadarkan diri. Terlihat darah mengalir membasahi pakaiannya, entah darimana darah itu berasal. Sepeda korban berada tak jauh dari tubuhnya, lampu sepeda pecah dan bagian depan penyok, tas korban terlempar agak jauh dari dirinya. Isinya tumpah berhamburan di atas aspal jalanan. Mobil bagian samping kiri penyok, kaca spion hancur.

Terdengar raung sirene mobil Polisi. Manusia yang berkerumun dibubarkan, hanya dua orang saksi diperbolehkan tinggal untuk diminta kesaksiannya.

‘’Kartu identitas’’ tanya Polisi pendek.

Ruben memberikan kartu yang dimaksud termasuk SIM. Sedangkan Polisi yang lain terlihat bertanya kepada dua orang saksi yang melihat peristiwa kecelakaan tersebut. Setelah itu memeriksa tempat kejadian.

Tak lama kemudian, korban diangkut masuk ke dalam Ambulans, menuju rumah sakit, sedangkan sepedanya yang rusak serta tas dan isinya dibawa oleh Polisi. Ruben diperintahkan untuk mengikuti Polisi menuju kantor kepolisian.

Ruben menjalani proses verbal.

‘’Jadi anda tertabrak, dan wanita korban itu  penabrak?’’ tanya petugas pengusut. 

‘’Ya, kendaraan saya dalam keadaan henti motor, oleh karena palang rambu lalu lintas Kereta Api sedang turun,’’ ucap Ruben.

‘’Apakah anda tau, mengapa tiba-tiba wanita itu menabrak mobil anda, apakah anda punya ide  mengapa ia lakukan itu?’’ tanya pengusut.

‘’Tidak, samasekali saya tak bisa mengandai-andai soal ini. Tiba-tiba saja dari arah samping kiri korban menabrakkan sepedanya dengan sangat keras ke arah pintu pintu mobil. Sekejap langsung korban terpental dari sepedanya,’’ Ruben mencoba menjelaskan kronologis jalannya peristiwa.

‘’Anda kenal dengan dia?’’ 

‘’Tidak,’’ ucap pendek Ruben.

Dari pihak kepolisian, Ruben diberitahu bahwa korban tidak memiliki alamat tetap, tidak ada kartu identitas yang bisa membantu menyatakan siapa namanya, dimana tempat tinggalnya dan sebagainya. Pihak kepolisian masih harus menunggu informasi dari pihak rumah sakit untuk data ini. Perawatan korban atas tanggung jawab pihak kepolisian.

Ruben sendiri, tidak terkena sanksi hukuman untuk peristiwa ini, oleh karena kendaraannya dalam situasi mati motor. Atas advis Polisi, Ruben diminta untuk menjenguk korban di rumah sakit sebagai bagian perhatian sosial kemanusiaan. Ruben meyanggupi setelah tau alamat rumah sakit.

Tiga hari setelah peristiwa, Ruben menjenguk korban di rumah sakit. Sebelum tiba pada sal dibelinya seikat bunga genggam yang kecil saja pada toko cenderamata, Anyer warna ungu muda campur Margrit warna putih, tiga daun pakis muda ikut menghiasi. Tak lupa sebuah kartu dengan tulisan ‘’Get well soon’’ menyertainya, serta sebotol sari apel.

Lupa-lupa ingat wajah korban, Ruben bertanya pada resepsionis nama yang ia cari, Julie.

Kamar terletak di tingkat kedua, di sana korban Julie menempati kamar bersama tiga pasien lainnya; dua wanita dan satu pria.

‘’Sore,’’ ucap Ruben untuk semua pasien. Mereka menganggukkan kepalanya.

‘’Hai,’’ sapa Ruben.

Terlihat wanita sedikit bingung, matanya memberi sinyal ia tak mengenal Ruben.

‘’Jangan panik, kamu tak kenal saya, tetapi saya masih ingat kamu,’’ Ruben berusaha mencairkan kebingungan wanita.

‘’Ruben,’’ diulurkan tangannya.

‘’Julie.’’

Agar suasana tidak begitu kaku, Ruben berupaya menghangatkan pertemuan.

‘’Suka ini?’’ Ruben menyerahkan buket bunga.

Terlihat mata wanita tersenyum, diterimanya buket bunga sambil menghirup aromanya. Kerling matanya sedikit malu-malu ketika membaca kata-kata dalam kartu.

‘’Merepotkan saja,’’ ucap Julie.

Ruben menggelengkan kepalanya, memberi tanda tak jadi soal. Ditariknya sebuah kursi dan duduk agak dekat dengan tempat tidur. Terlihat selang infus NaCl,0,9% masih terpasang pada pembuluh vena Julie pada pergelangan tangannya.

  ‘’Mm …, juga suka ini? ditatapnya mata Julie sambil menyodorkan botol sari apel.

Waktu menerimanya mata Julie berkaca-kaca, ia merasa saat ini bermandi cahaya perhatian. Belum pernah ia mendapatkannya dari seseorang, termasuk orang tuanya sendiri. 

Keduanya membisu, sambil mencuri pandang malu-malu. Tak berani untuk memulai siapa yang akan memulai percakapan.

‘’Udara cerah,’’ Ruben membuka kata.

‘’Kemarin hujan seharian,’’ balas Julie.

Ruben membantu Julie meletakan buket bunga pada vas yang tersedia di atas meja di dekat tempat tidurnya, sambil tak lupa memberi air secukupnya. Sementara Julie megikuti dengan pandang matanya, seakan-akan bunga itu sudah menjadi milik satu-satunya saat ini.

‘’Jangan khawatir, bunga gak akan diambil pasien sebelah,’’ bisik Ruben.

Mereka tertawa bersama, dan suasana pun terasa hangat hadir di antara keduanya.

Jam besuk terbang begitu cepat, tak terasa Ruben harus cepat meninggalkan ruangan. Tak sempat bercerita panjang apalagi bertanya, hanya hal-hal sederhana saja. 

‘’Boleh gak hari minggu datang lagi?’’ tanya Ruben.

Julie menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Keesokan harinya, Ruben mampir ke kantor kepolisian untuk melapor hasil pertemuan dengan Julie sebagai bagian dari sesi pengusutan. 

‘’Jadi korban tidak menceritakan hal-hal lain yang sekiranya dapat membantu kita?’’ tanya polisi pengusut.

Ruben menggelengkan kepalanya.

Minggu dengan matahari yang cerah. Ruben sengaja membawa koran hari sabtu, sebagai pelengkap bawaan sebungkus kue kering untuk Julie. Pikirnya, siapa tau Julie mau baca-baca berita. Namun sayang setibanya di sal yang ia tuju ternyata Julie sudah pulang dua hari yang lalu. Dengan perasaan kecewa berat Ruben pulang kembali.

Bulan Agustus, banyak hari libur, termasuk Ruben. Setiap tahun Ruben sengaja mengambil waktu cutinya tepat bulan Agustus. Musim panas ia nikmati bukan dengan tiket yang mahal ke tempat liburan di luar negeri, tetapi cukup joging pagi-pagi, main sepeda sore hari dan olah raga basket dengan grup. Terasa nikmat, energi pun kembali dan stres akibat pekerjaan rutin kantor tiba-tiba saja lenyap.

Pagi hari ketika cicit burung membuka salam hari yang baru, Ruben melakukan joging ke arah hutan. Jalan setapak yang sering dilalui oleh mereka pencinta alam. Terlihat dua grup orang bersepeda melewati dirinya. Di belakangnya, terdengar cakap dua orang lansia yang sedang berjalan santai sambil berolah raga.

Dari jauh, Ruben melihat seseorang keluar dari pintu pagar. Ketika melewatinya, tiba-tiba Ruben mengenal siapa orang ini.

‘’Julie!’’

Julie menolehkan kepalanya mencari darimana asal suara. Matanya bersinar melihat Ruben.

‘’Hei, emangnya kamu tinggal di sini?’’ tanya Ruben.

Julie setengah menganggukkan kepalanya, tetapi cepat melanjutkan langkahnya. Ruben terkejut melihat tingkah Julie, dan bermaksud untuk mengikuti langkah Julie.

‘’Jangan ikuti aku,’’ pinta Julie.

‘’What!’’ tanya Ruben.

‘’Please, ikuti dengan jarak saja, sampai di ujung jalan sana,’’ perintah Julie.

Ruben mengikuti apa yang Julie katakan, dalam hati Ruben tiba-tiba saja tebersit sesuatu yang aneh. Ada apakah dengan Julie?

Pada tikungan jalan sekitar seratus meter dari pintu pagar, di balik pohon-pohon besar, Julie berhenti melangkah, dan Ruben berdiri di belakangnya. Ketika Julie membalik memandang Ruben, terlihat airmatanya telah membasahi kedua pipinya.

Dengan reflek Ruben memegang tangan Julie untuk memberi ketenangan.

‘’Julie, ceritakan ada apakah?,’’ pinta Ruben.

Namun kata-kata itu sulit keluar dari mulut Julie, malah matanya tak tenang melirik ke sana ke mari, seakan-akan takut seseorang melihat dirinya di situ berbicara dengan orang lain. 

‘’Julie, mobilku terpakir di sana, ayo mau ikut sebentar ke rumahku, nanti kubawa kembali ke sini,’’ jelas Ruben.

Julie menyetujuinya. Ruben berlari-lari kecil, sementara Julie mengikuti dengan langkah tergesa-gesa dengan jarak di belakang Ruben. Sampai di tempat parkir, langsung Julie masuk ke dalam mobil Ruben dan belum limabelas menit mereka sudah sampai di rumah Ruben. 

Ruben segera membuatkan teh hangat untuk Julie, sementara Julie duduk di bangku seperti menggigil. Matanya dikedip-kedipkan, dan kulit wajahnya berwarna sangat pucat. Terlihat lingkaran hitam menggantung di sekitar kedua matanya.

Ruben berjongkok di depan Julie, dimana ia duduk. Digenggamnya kedua tangan Julie seakan-akan ia telah mengenalnya lama.

‘’Beri aku Methadone, cepat!’’ perintah Julie.

Mata Ruben terkesiap besar, mendengar kata itu. Dengan susah payah Julie bercerita kisah dirinya. Hati Ruben remuk mendengarkannya. Belum pernah ia mengalami suasana hati seperti ini, seperti ia kini bagian di dalamnya dan terseret jauh masuk ke dalamnya untuk memahami situasi Julie.

‘’Julie, tidak adakah cara lain?, ke dokter, di sana pertolongan pasti ada,’’ Ruben berusaha menjernihkan pikiran Julie. 

Namun Methadone itu sudah menguasai pembuluh darah Julie, bahkan sampai ruang jantung dan otaknya. Sedangkan ginjalnya menerima ampas-ampas racun ini dengan kekuatannya.

‘’Tolong pergi ke orang ini, tolong belikan untuk ku, kalau tidak aku bisa mati,’’ ucap Julie.

Tanpa pikir panjang Ruben segera mencari alamat orang yang Julie maksudkan, dengan uangnya ia membeli pesanan Julie, bubuk Methadone.

Ternyata, waktu telah membuat seorang Julie berubah. Bubuk Methadone itu telah menjadi bagian kehidupannya. Tanpa bubuk ini Julie akan terkapar lemah, mungkin akan mati sekarat dengan kejang-kejang yang menakutkan. 

Kisah hidup Julie membuat hati Ruben trenyuh, oleh karena nama Julie telah tercoret lama dari kamus besar dan album keluarganya. 

Kini Ruben acap bertemu dengan Julie. Pertemuan yang tanpa mereka kehendaki ternyata melukis ruang hati mereka dengan warna kehidupan yang sangat indah. 

Warna yang bagi Julie sangat menakutkan bila lukisan itu harus diselesaikan. Sementara bagi Ruben, adalah anugerah bagaimana ia akhirnya menemukan seseorang yang bisa membangkitkan kembali getar melodi dalam perasaannya, setelah hampir limabelas tahun getar ini mati, terluka. 

Namun, ketergantungan Julie akan Methadone sampai detik hari itu belum berhasil menyempurnakan harapan Ruben. Harapannya masih terus terbuka, menunggu. Ruben kini berani mengatur dosis pemakaian Methadone Julie, dan Julie berusaha keras untuk memerangi ketergantungannya. Usaha ini belum sempurna, namun arah ke sana sudah terlihat, bahwa Julie berusaha keras melawan Methadone yang menjadi tuan rumah dalam dirinya.

Suatu hari, ketika Julie bertamu di rumah.

‘’Julie, maukah kau hidup bersamaku? bisik Ruben  di telinga Julie.

Mata Julie memandang mata Ruben, untuk pertama kalinya Julie melihat betapa mata itu memiliki sinar yang indah, sinarnya mampu mengalahkan ketagihan Methadone akhir-akhir ini. Kasih sayang Ruben telah mengganggu mimpi-mimpi indah tidur Julie bila malam tiba. 

Mereka pun berdekapan, dengan lembut tangan Ruben membelai rambut Julie. Berulang kali Ruben mencium rambut kepala Julie. Jantung keduanya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya Julie merasakan sentuhan bibir yang santun, yang membimbingnya ke arah suasana hati yang damai dan murni.

‘’Ruben, maukah kau mendengar kisah nyataku?’’

Ruben menganggukkan kepalanya, dikuatkan dekapannya. 

‘’Berceritalah, kosongkan balok kisah masa lalu di hati dan pikiranmu,’’ ucap Ruben perlahan. ‘’Tak ada manusia yang sempurna, termasuk aku Julie,’’ pelan suara Ruben membimbing.

Julie merebahkan kepalanya di dada Ruben, di sana ia merasa detak jantung Ruben yang seakan-akan memberi ia kekuatan untuk meluruskan benang kusut kehidupan dirinya.

Mulutnya tak terkunci, air mata Julie mengalir deras membasahi kemeja Ruben, terasa rangkulan tangan Ruben penjara yang tak akan melepaskan dirinya lagi, serasa tangan itu memaksanya untuk tidak berlari lagi. J

ulie menengadahkan wajahnya, lurus ditatapnya mata Ruben. Khawatir sinar mata itu berubah warna dan kesejukan. Jawaban Ruben adalah palu terakhir kisah hidupnya.

‘’Maukah kau menjadi istriku Julie.’’

Kini keduanya menangis, air mata mereka membasahi wajah-wajah dengan kejujuran mereka. Gorden berwarna gelap itu tersingkap, tiba-tiba saja sinar keemasan mentari menari masuk memeriahkan suasana. Tak ada kebohongan, tak ada luka, yang ada adalah harapan baru, kebahagiaan. 

Dua hari Ruben menunggu kedatangan Julie, namun Julie tak kunjung tiba. Hati Ruben kacau, dua  malam tidurnya terganggu, gundah seakan-akan menunggu kemenangan lotre.

Tak sabar Ruben mendatangi pintu pagar dimana Julie menghuni rumah kecil. Belum pernah Ruben datang menjenguk Julie di situ, terlarang! Terlihat rumah kecil itu sepi, pintu pagar terkunci dari dalam.

Pada sisi tembok dekat pagar, terlihat gumpalan kertas, tak menarik perhatian namun cukup menantang mata Ruben.

Susah payah dengan memakai tangkai dahan kayu, ditariknya gumpalan kertas itu. Tiba-tiba saja Ruben merasa, bahwa kertas itu memang dengan sengaja Julie letakkan di situ agar Ruben menemukannya. 

‘’Ruben kekasihku, betapa aku merindukanmu

Tiada hari tanpa namamu di hatiku. Mimpi menjadi istrimu, mengganggu khayalan dan harapanku. Tapi aku tak berdaya Ruben. Aku hanyalah seorang budak seks.

Ingin sekali aku berlari denganmu, jauh… sejauh aku sanggup. Namun kakiku terantai. 

Dua malam kemarin James datang, tubuhku bukan lagi milikku. Jiwaku sudah mati, dan daging tubuhku saksi kemaksiatan James. Methadone itu menguasai diriku kembali dengan dosis yang tinggi.

Sangat menyakitkan pergi tinggalkan dirimu, entah kemana sekarang aku pergi? Hanya James yang mengetahuinya.

Moga aku cepat bertemu dengan Katie, Lily, Susan dan Jefry. Aku akan selalu mengenangmu. Hatiku tetap untukmu, always.’’

Secepat kilat, refleks Ruben mengkontak Polisi, Sekejap berdatangan tiga mobil Polisi. Mereka langsung membuka dengan paksa pintu pagar. 

Di sana, di dalam rumah kecil, terlihat tempat tidur, satu meja dengan piring, sendok dan termos air. Tak ada pakaian Julie, yang ada hanya handuk, dan beberapa buku bacaan. Di atas meja dan lantai berserakan jarum-jarum suntikan. Dinding rumah tak pernah beralas. Ada kalender yang di coret sana sini.

Polisi memeriksa lokasi sekitar rumah, di belakang terdapat rumah kecil dari kayu yang berfungsi sebagai kamar mandi dan wc.

Di samping rumah terdapat empat gundukan kecil tanah yang di atasnya penuh tumbuhan rumput liar. Dalam hati Ruben, inikah yang Julie maksudkan sebagai Katie, Lily, Susan dan Jefry?

Oleh karena Julie pernah cerita empat kali ia mengalami gagal hamil. Jadi selama sepuluh tahun Julie terpenjara di dalam rumah kecil itu ia bukan saja menjadi budak seks dan budak Methadone, tetapi juga mengalami proses menyedihkan, kehilangan bayi-bayinya. 

Ketika Ruben menyampaikan kepada pihak kepolisian, segera Polisi memanggi reserse untuk melakukan pengusutan lokasi.

Dari pihak kepolisian diketahui, lahan itu ada pemiliknya yang kini tinggal sementara di Lisabon. Namun, siapa yang akhirnya menggunakan rumah kecil itu dan memenjarakan Julie selama sepuluh tahun, Polisi masih mencarinya. 

Wajah Julie yang sempat Ruben abadikan dengan Smart Phonenya, disiarkan oleh pihak kepolisian lewat acara televisi sebagai ‘’orang yang dicari.’’

‘’Maafkan aku Julie, aku harus mencarimu sampai dapat,’’ lirih suara Ruben.

Hampir setiap hari Ruben mampir dan berdiri di depan pintu pagar, menanti keajaiban kalau saja ia bisa melihat Julie kembali. Namun, tetap kosong.

Bila senja tiba, dikala remang cahaya merayap menari bersama daun-daun pohon, Ruben tetap berdiri di sana. Pedih itu perlahan menguasai dirinya. Air matanya jatuh, tetes, dan tetes.

Tak sanggup ia memikirkan, bagaimana Julie tahun ke tahun lemah menjadi budak seks dan Methadone. 

Belum pernah  Ruben merasa hatinya sakit seperti ini, belum pernah. 

–o0o–

”Er zullen altijd een paar obstakels in onze leven blijven”

Foto ”Penghuni” Copyright 2016©RonOtt Photography. All rights reserved.

Fiksiana.kompasiana.com, cerpen”penghuni”_

Dit bericht was geplaatst op mei 16, 2017, in Cerpen en getagd als .

Labirin Waktu (8) … (novel)

 

Ruangan begitu sejuk karena AC. Samar mata Elona menangkap bayangan putih yang bergerak ke sana ke mari. Terasa sulit untuk memfokuskan pandangan. Kepalanya sedikit pening.

Terdengar suara seseorang berkata, ‘’sepertinya dia sudah sadar.’’

Elona merasa seseorang mengarahkan lampu kecil ke arahnya dan membuka kelopak matanya lebar-lebar.

‘’Halo, … dr. Herman.’’ Lelaki berbaju putih itu memperkenalkan diri.

Elona mengulurkan tangan dan menyebut namanya. Di sebelah tempat tidurnya duduk Eric polisi. Dan Steve polisi berdiri di sampingnya membelakangi jendela.

‘’Gimana perasaan anda sekarang?’’ tanya dokter.

‘’Agak mual dan sedikit pening di kepala,’’ sahut Elona.

Dokter membalikkan diri dan bercakap dengan dua perawat serta memerintahkan sesuatu kepada mereka.

‘’Hari ini anda menginap di sini, kami akan memeriksa kesehatan anda dengan cermat, nanti akan datang kolega saya yang lain, dr. Stany’’ ucap dr. Herman.

Perawat memasangkan dua kantong infus pada tiang di sebelah tempat tidur Elona, yang satu berwarna putih dan yang satu darah. Menurut perawat Elona mendapat tambahan darah. Ketika perawat meninggalkan ruangan, datang seorang perawat bagian gizi yang membawa nampan. 

‘’Silahkan dimakan, minumnya mau apa? ada air jeruk, apel, peer atau mau teh, atau air mineral?’’ perawat bertanya.

‘’Sari apel.’’

Kepada Steve dan Eric perawat menawarkan minuman yang sama, tetapi kedua polisi memilih kopi.

Elona bertanya pada Steve dan Eric, mengapa ia sampai ada di ruangan ini. Kedua polisi menerangkan bahwa Elona tiba-tiba terserang panik ketika berada di lokasi pom bensin. 

‘’Apakah anda masih ingat?’’ tanya Eric.

Elona menggelengkan kepalanya. Aneh, ia tak bisa mengingat kejadian apa yang menimpanya, apalagi ketika Polisi menceritakan mereka sedang ada di lokasi pom bensin berdasarkan permintaan Elona, namun tiba-tiba Elona terserang panik. Dengan ambulans mereka akhirnya membawa Elona ke rumah sakit. 

Waktu kedua polisi menceritakan kembali awal pertemuan mereka di restoran Pectopah, samasekali Elona tidak mengingatnya. Semua seperti terhapus. Bahkan di rumah sakit pernah Elona oleh tim dokter atas persetujuan pemeriksaan polisi berada dalam sesi hipnotis, langkah ini untuk membuka rahasia siapa Elona, tetapi sesi hipnotis itu tidak sukses.

***

Tak terasa sudah hampir delapan bulan Elona menempati ruangan baru pada sebuah rumah di pinggir perkebunan kentang. Rumah ini memang milik seorang petani yang memiliki juga peternakan sapi. Berdasarkan keputusan pemerintah daerah dan polisi setempat, mereka memberi Elona tempat tinggal untuk sementara sampai pihak yang berwenang mengetahui siapa Elona yang sebenarnya, darimana asalnya, dan sampai ingatan Elona kembali agar dapat membantu polisi setempat untuk membantu Elona mengembalikan kepada keluarganya. Sebab Elona kini masuk dalam daftar sebagai orang ‘’asing’’ atau tepatnya orang hilang yang ditemukan, tetapi kehilangan ingatan hingga ia tidak mengetahui siapa dirinya.

Ada sesuatu yang hilang, yang sulit untuk ditangkap buntutnya dalam kenangan bila Elona mencoba mengingat siapa dirinya. Disaat lain ia seperti mempunyai masa lalu, tetapi saat lain masa lalu itu sulit sekali untuk dibuka, seperti terkunci.

Elona berkaca pada cermin, diamati kulit wajahnya. Baru kali ini Elona mengetahui bahwa bintik-bintik hitam pada bagian pipinya kini menghilang. Padahal bintik-bintik itu sudah ada sejak ia dilahirkan. 

Elona juga mengamati giginya, aneh! gigi bagian atas dekat gigi geraham tidak lagi sakit. Padahal gigi itu sudah tinggal waktunya untuk dicabut saja. Yang aneh lagi, Elona tidak bisa ingat kapan harus mencabutnya.

Diamati kulit tangannya, tiba-tiba Elona melihat banyak perubahan di sana yang ia sendiri tidak tahu mengapa.

Ketika melihat wajahnya di cermin, seakan-akan Elona tahu bahwa ia tak memerlukan makeup. Padahal ia penggila produk makeup. Di tempat baru ini, selama delapan bulan ini, belum pernah Elona memoles yang namanya krim wajah atau lipstik untuk memerahkan bibirnya. Belum pernah, aneh sekali!

Untuk keperluan hidupnya ini, Elona mendapat bantuan keuangan secukupnya. Bahkan dari pihak kepolisian Elona ditawarkan pekerjaan part time seminggu tiga kali pada sebuah gedung perpustakaan. Elona menyambut tawaran ini dengan suka hati. Lebih baik ia sibuk bekerja daripada duduk termenung di dalam rumah memandang hijaunya tananaman kentang milik petani dan mencoba mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya. Sebab semangkin ia berusaha keras untuk mengingat, maka semakin tak sanggup otaknya. Hanya satu yang ia ingat yaitu namanya sendiri, Elona.

Pada sebuah lemari terletak barang lama miliknya, yang di matanya sendiri kini menjadi sangat asing. Elona samasekali tak bisa mengingat bahwa laptop kerja itu miliknya. Untuk membukanya saja ia tidak  tahu bagaimana. Pihak polisi sudah mencoba membukanya, tetapi isinya semua bahasa asing yang mereka tidak kenal. Ketika diperlihatkan pada Elona, tiba-tiba saja Elona pun membaca bahwa bahasa itu semua asing, ia tidak mengenalnya sedikitpun!

Buku agenda kerjanya juga samasekali tidak bisa menuntun ingatannya kembali. iPhone yang samasekali mati dan sepertinya rusak dan baterainya sangat asing terlihat, itupun sangat asing di matanya. Dari pihak kepolisian, Elona mendapat perintah untuk tidak membuang barang-barang ini. Ia harus menyimpannya dengan baik. Bahkan satu kali sebulan Elona wajib berkunjung ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya. Di sana ada tim yang sudah siap akan menolong memeriksa Elona. Mereka memantau dengan teliti perkembangan ingatan Elona.

Ketika pulang menuju bus halte, Elona melewati sebuah toko kecil, di sebelahnya ada toko sepatu. Ada hal yang menarik yang memancing mata Elona terpaksa terpaku memandangnya, boneka kecil, Jerapah. Sesuatu di otaknya berjalan, tetapi akhirnya cepat berhenti karena buntu. Elona berdiri di luar kaca jendela toko, memandangi etalase toko yang memamerkan macam-macam boneka. Mata Elona terus tak berkedip putus memandangi boneka Jerapah kecil itu, ada sesuatu yang yang menghubungkannya, tetapi itu apa, Elona tak tahu.

Karena begitu banyak orang yang lalu lalang di depan pertokoan tersebut, tiba-tiba tubuhnya tersenggol oleh seseorang.

‘’Ups, sorry!’’ sapanya.

Elona tak menjawab, hanya sekilas memandang wajah seseorang itu, seorang pria. 

Aneh, belum lagi detik berlalu kedua orang ini terpana memandang satu sama lain. Elona tiba-tiba terkejut memandang wajah lelaki itu yang sepertinya ia kenal, tetapi dimana?

Dan pria itu juga mengalami situasi yang sama, tiba-tiba ia terhenyak memandang wajah Elona, seperti ia pernah melihatnya, tetapi entah dimana?

‘’Hai, sorry, barusan kena badan kamu,’’ ucapnya.

Elona tersenyum malu dan menggelengkan kepala berarti; tak mengapa.

Lelaki itu meneruskan perjalananannya, tergesa menuju suatu tempat. Elona melanjutkan matanya memandang boneka kecil pada etalase toko.

Tiba-tiba perasaan baru muncul pada diri Elona, sesuatu yang belum pernah ia rasakan tetapi ia mengenalnya. Diraba pipinya dengan telapak tangan, terasa darah mengalir hangat di sana hingga pipinya menjadi panas. 

Boneka Jerapah kecil dan lelaki yang baru saja menabraknya dari belakang telah membuat Elona terhenyak. Sesuatu entah itu darimana datangnya seperti menguasai perasaan hatinya, lalu mencoba memaksa tali simpul yang kini menguasai ruang otaknya untuk terbuka, tetapi belum berhasil.

Tanpa Elona kehendaki, tiba-tiba saja air matanya menitik, merembes membasahi kedua pipinya. Ia tersedu dalam kebingungan hatinya.

Masih juga dalam suasana terkejut, Elona belum sanggup memahami dua peristiwa yang baru saja terjadi. 

Bersambung, …

Foto ”Labirin bag 8” Copyright 2017©RonOtt Photography. All rights reserved

Fiksiana.kompasiana.com, novel ”labirin waktu”

Dit bericht was geplaatst op mei 16, 2017, in Novel en getagd als .

Tertipu … (cerpen)

 

Aroma roti bakar dan telur mata sapi menyemarakan suasana pagi, menggelitik perut untuk segera menyantapnya. Sinar mentari tumpah masuk ketika gorden terkuak.

Namun Tina masih tetap bersembunyi di bawah selimutnya. Lingerie warna merah berenda hitam, dikibar-kibarkannya di atas selimut.

‘’Tin, please, nanti kau telat, ini sudah hampir jam setengah delapan,’’ Romy mengingatkan.

Tina bukannya bangun, sekali gerak disingkapnya selimut. Tubuh telanjang Tina kini menantang Romy yang sedang sibuk mengatur gorden dan membuka jendela.

‘’Hormonku lagi loncat-loncat,’’ ucap Tina.

‘’No Tina, aku lagi gak mood!’’

Akhirnya langkah gontai Tina beranjak menuju kamar mandi. 

Tiga tahun sudah Romy kehilangan pekerjaannya, kini ia menguasai ruang dapur, mesin cuci, dan meja setrika. Selama itu tak pernah Romy mengeluh. Inilah yang membuat Tina menjadi sangat sayang pada suaminya. Kebanggaanya ini sering loncat keluar dari bibirnya ketika saat makan siang di kantor. Kolega Tina yang mendengarpun menggigit mengiri.

‘’Moga dia gak sukses dapat kerjaan baru, biar pakaianmu licin dan makanan enak,’’ seloroh Anita koleganya.

‘’Huss, emangnya pembantu,’’ balas Tina.

‘’Pembantu luar dalam,’’ kembali Anita menganggu. Mereka tertawa menanggapinya.

Meskipun kolega Tina ikutan memuji tangkasnya Romy mengerjakan pekerjaan rumah tangga, masih saja Romy suaminya menentang silaturahmi Tina dengan tetangganya, Frida. Romy merasa resah dengan status tetangganya ini, yang akhirnya hanya menjerumuskan istrinya sendiri.

‘’Gak usah terlalu dekat dengan tetangga sebelah.’’ Pernah sekali Romy menegur Tina tanpa alasan.

‘’Loh, emangnya apa yang salah?’’

‘’Orang nanti salah nilai.’’

‘’What! ….. ’’ mata Tina terbuka lebar minta penjelasan yang masuk akal dari Romy.

‘’Ya, lakinya kan minggat begitu aja, status gak jelas, dengar berita sih katanya pengedar ganja di Amsterdam,’’ celoteh Romy.

Menurut Tina, tak layak Romy menghakimi hidup tetangganya bahkan sampai melarangnya bergaul. Bahkan masuk tahun ketiga masa menganggurnya memang Romy banyak berubah, terlalu sensitif dan acap Tina harus menjaga kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri.  

Romy yang dulu aktif dalam soal urusan seks, kini berganti Tina yang liar menjadi bintang foreplay.

Pernah sekali Romy mengamuk melihat Tina mencukur rambut down under-nya dengan model Brazilian style. 

Romy menuduhnya ini semua gara-gara Tina berteman dengan Frida. Peristiwa yang tidak akan Tina lupakan, malu rasanya kena olok-olok mirip pelacur. Padahal niat Tina hanya untuk memuaskan dan membahagiakan suaminya. Hampir sebulan Romy tak mau melihatnya telanjang, hanya gara-gara rambut down under Tina hampir botak.

‘’Hei you, Mr. Chaplin!’’ Romy mengoloknya minggu kemarin ketika melihat Tina sedang berganti pakaian. Malu sekali Tina kena olok seperti itu. 

Meskipun Romy terkadang aneh di mata Tina, tetap ia mengagumi ketangkasan Romy mengurus semua keperluan rumah tangga. Setiap hari, ada saja Romy mengejutkan dirinya. Dan ini kali adalah pizza Margarita yang penuh dengan tomat, nanas dan bumbu oregano.

‘’Mm…  enak. darimana kau belajar,’’ tanya Tina, mulutnya penuh bergantungan lelehan keju.

‘’Dari youtube.’’

Antara bangga dan sedih sebenarnya Tina melihat kenyataan ini. Merasa tak adil bila tugas memasak itu akhirnya menjadi tugas Romy. Acap Tina bertemu dengan Frida tetangganya di pusat kota tanpa sepengetahuan Romy, hanya sekedar bercurhat. 

‘’Dasar lelaki edan, sudah dikasih makan masih besar kepala pula,’’ kekesalan Frida terlontar soal Romy.

‘’Ah, sudahlah, gimanapun dia suamiku,’’ desah Tina.

Dari Frida ia mencoba memberanikan diri membeli lingerie model aneh-aneh, tetapi jarang dipakai karena khawatir dapat komentar pedas dari suaminya sendiri. Dari Frida ia coba-coba mencukur rambut down under-nya ala Brazilian style. Dan dari Frida ia belajar bagaimana menjadi pengambil inisiatif untuk foreplay soal urusan seks. Pikir Tina, tanpa bantuan Frida mungkin Romy sudah lari minta cerai atau minggat seperti laki Frida dan pulang ke rumah orang tuanya. 

Akan tetapi, tetap saja Romy membenci Frida tetangganya. Bahkan ide pindah rumah biar tak melihat wajah Frida pernah Romy sampaikan. Tina menganggap Romy sudah masuk taraf depresi karena stres.

‘’Gimana acara maraton, jadi gak.’’ Suara Romy menyadarkan Tina yang lagi sibuk dengan laptopnya.

‘’Jadi dong, hari minggu malam baru pulang, jumat sore kita berangkat langsung dari kantor.’’ Tina menjelaskan.

Aktifitas tahunan Tina dengan beberapa kolega kantornya, ikut maraton di kota lain, Rotterdam. 

Tiba-tiba Tina melihat beberapa guratan panjang di belakang punggung Romy ketika ia sedang berganti kaos. Waktu Tina menyentuhnya, Romy terkejut.

‘’Apaan sih?’’

‘’Kok punggungmu banyak garis-garis panjang, seperti kena cakar.’’

Romy tertawa keras, ‘’ini ulah kado mu, tau!’’ ucapnya.

Rupanya kado ulang tahun, penggaruk punggung yang ia beli untuk Romy di pasar malam Den Haag itu menjadi bumerang. Acap Tina melihat guratan dan bercak darah pada kaos. 

‘’Jangan pakai lagi, nanti tambah parah lukanya! ’’ Tina mengingatkan.

Menyesal Tina memberi Romy kado unik seperti ini, kalau saja ia tahu akan jadi begini maka lebih baik beri dia kado voucher korting masuk grup main sepeda. 

Seperti biasanya, Tina yang lebih dahulu beranjak ke tempat tidur. Ketika merebahkan kepala terasa pelipisnya tergores sesuatu yang tajam. Diamatinya benda kecil yang kini ada di telapak tangan, ternyata giwang perak miliknya sendiri. Malas untuk mengingat kapan hari terakhir Tina mengenakan perhiasan miliknya ini, ia beranjak ke meja rias untuk mencari teman giwang yang lain.

Pikiran Tina melayang ketahun pertama ia bertemu dan berkenalan dengan seorang pemuda pengantar surat-surat pos, yaitu Romy. Perkenalan yang tak lama, kedua orang tua mereka sangat menyetujui hubungan ini. Dan ketika itu Romy memilik ide yang unik, ia memberi pada Tina sebagai pengganti cincin kawin mereka, sepasang giwang perak berbentuk barok daun.

Hemat sekali Tina memakainya, hanya pada acara khusus. Pernah sekali adiknya, Vera, hendak meminjamnya ketika akan menikah. Tetapi Romy menolak dan mengatakan pada Tina jangan sekali-kali benda sakral  dipinjamkan kepada orang lain, ‘’bawa sial’’, begitu ucap Romy. 

***

‘’Tin, pakai saja Thermoshirt ku,’’ tawar Romy.

Tina memeriksa sekali lagi barang dan pakaian yang harus dia bawa dalam kopernya. 

‘’Kalau kau pulang minggu malam, aku buatkan Spaghetti Carbonara kesukaanmu,’’ janji Romy.

‘’Yang banyak saus jamurnya,’’ pinta Tina.

Terdengar pintu rumah diketuk. Pada kaca jendela bagian depan terlihat Frida melambaikan tangan ke arah mereka berdua lewat gorden yang terbuka. Melihat Frida, langsung Romy mengomel. Sumpah serapah kata-kata yang tak layak keluar dari mulutnya, membuat Tina jadi benar-benar stres.

‘’Rom, please, dia gak pernah menyusahkanmu, gak pernah minta uangmu, gak pernah minta makan ke kita. Kok bencimu seperti macan mau makan orang!’’ ujar Tina.

‘’Pingin muntah kalau lihat muka dia. Jangan suruh dia masuk rumah ini, bawa sial tau!’’ Romy mengamuk.

Akhirnya hanya Tina yang berdiri di muka pintu menyambut Frida.

‘’Tin, ini aku buatkan macaronischotel buat tambah energi. biar kuat kalau maraton’’ Frida menyodorkan satu piring macaronischotel pakai corned beef.

‘’Duh, aku merepotkanmu terus Frida.’’

‘’Ya udah, jangan dibawa hati, apa kubilang kan, suami edan, tau!’’ bisik Frida.

Ingin sekali Tina secepatnya pergi kekantor, agar tenaganya dan isi kepalanya tidak berat kena sumpel emosi Romy.

‘’Ngomong apa lagi dia?’’ pinta Romy.

‘’Romy, stop, keterlaluan kalian!’’

Jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam ketika lima orang termasuk diri Tina berkumpul di halaman parkir kantor. Dua kendaraan beriring bersamaan menuju tempat yang mereka tuju, Rotterdam. Salah satu hotel sudah menunggu mereka untuk check-in. Di tengah perjalanan mereka berhenti sejenak untuk mengisi bensin.

‘’Tin, tadi siang aku sengaja lari sebentar dari kantor ke toko untuk cari kaos kaki, siapa yang jalan dengan Romy, pake usap-usap pipi segala. Adikmu si Vera ya,’’ tanya Birgit.

‘’What!’’

‘’Aku lihat Romy sama adikmu Vera lagi keluar dari supermarket, belanja.’’

‘’Hari Selasa aku libur, malah lihat Romy mu di Garden center lagi gotong pot bunga Petunia, besoknya aku tanya bagus banget bunganya, eh kau malah melongo,’’ tambah Carmen.

Terdiam Tina, aneh! Sebab Vera ada di Afrika sama suaminya melakukan tugas sukarelawan sebagai dokter. Juga aneh, di rumah tidak ada bunga Petunia yang Carmen ceritakan. Perut Tina jadi mual dan kepalanya pening. Otaknya cepat mencoba melerai teka teki ini, siapa Vera dan mana bunga Petunia itu? Mengapa Romy tidak pernah cerita soal seperti ini. 

Dengan berani hati, Tina akhirnya membatalkan niatnya untuk tidak meneruskan perjalanan dan ikut maraton.

‘’Sorry teman-teman, aku langsung jadi gak enak badan dengar cerita seperti ini,’’ sahut Tina.

Tidak ikut maraton kali ini tak mengapa, mungkin akan lebih baik Tina pulang untuk mengetahui bagaimana jawaban Romy tentang kesaksian koleganya yang pernah melihat Romy. Bukannya Tina tidak mempercayai Romy, akan tetapi sudah masuk tahun ketiga ini Romy bertingkah aneh yang menyebalkan. Mengamuk tanpa sebab, mengolok-olok dirinya, memaki Frida  tetangga mereka. Hal-hal ini lama-lama membuat kesabaran Tina akhirnya sampai garis, finish.

Rumah terlihat gelap, seperti tak ada orang di dalamnya. Aneh, kemana Romy? Jam dinding baru menunjukkan belum lagi pukul setengah sembilan malam.

Terlihat seperti baru saja Romy mencuci piring usai makan malam. Tina menenangkan pikirannya. Sesering apakah Romy berpergian malam? sebab selama ini bila Tina  baru saja datang dari kantor, terlihat Romy masih sibuk dengan makanan di dapur, laptop atau nonton televisi.

Diulurkan kepalanya ke ruang kerja, di sana ada pc komputer rumah, ada laptop Romy. Waktu Tina menghampiri laptop Romy, terkesiap Tina kalau laptop Romy masih menyala dan terbuka passwordnya. Tangan Tina gemetar, selama kehidupan perkawinannya belum pernah selancang ini Tina berani membuka laptop Romy, sekalipun ia menganggur di rumah.

Laptop Romy penuh dengan folder. Di kliknya folder dengan judul ‘kerjaan.’ Di sana tertera banyak mail-mail lamaran kerjanya. Pada bagian bawah folder, terdapat ‘fotos.’

Gemetar tangan Tina ketika mengkliknya. Nafasnya menderu, seakan-akan ia kini menjadi seorang pencuri yang sedang mengendap di dalam rumah orang.

Kalau saja Tina bisa berteriak, maka suara itu akan terdengar oleh Frida tetangganya. Dan pasti Frida akan cepat datang untuk menolongnya. 

Degup jantungnya demikian keras memukul dada, hingga suaranya berdentam sampai di kepala.

Mata Tina dipaksa harus melihat, bagaimana hidung Romy mengendus sangat dekat dengan down under seseorang, komplet dengan model Brazilian stylenya. Dengan vulgar Romy mencium kemaluan seseorang tanpa sungkan. Tak pernah Romy lakukan pada diri Tina, malah kata Romy mencium kemaluan itu jorok! 

Mata Tina terkena hukuman, melihat Romy terbenam di antara dua payudara yang montok. Dengan rakusnya lidah Romy melalap sampai puting susu milik tuannya. Belum pernah suaminya melakukan hal ini pada dirinya. 

Romy dan si wanita berselfie ria tanpa malu. Semuanya mereka lakukan di rumah Tina sendiri. Di dalam kamar mandi Tina dan di atas tempat tidur Tina dan Romy sendiri. Menyakitkan!

Makin terpuruk hati Tina ketika ia melihat  foto Romy dan wanita dalam keadaan telanjang, berpelukan liar di atas tempat tidurnya. Foto demikian terang hingga mata Tina bisa menangkap perhiasan di kuping wanita itu, giwang kawin Tina. Benda yang Romy anggap sakral dan tak boleh dipinjam oleh Vera, kini bergantung di telinga seorang wanita tanpa izin Tina.

Begitu rakus dan liarnya Romy, tiba-tiba Romy menjadi orang asing di mata Tina.

Romy yang membenci Frida, Romy yang mengamuk gara-gara under down-nya bermodel Brazilian style, Romy yang benci lingerie, ternyata Romy yang bebas dan liar seks. Aktor sandiwara yang brilian.

Mata Tina perih, air mata itu seperti tercampur air garam dan cuka, pedas melukai wajahnya. Hati Tina terluka. 

Diambilnya kotak perhiasan yang ia simpan di dalam laci. Matanya nanar meraih dua giwang kawin miliknya. Ujung giwang terasa perih menusuk telapak tangan, sebagai isyarat terakhir. Tak ada keramahan di sana, tak ada kesetiaan, yang ada hanyalah kesakitan.

Diketuknya pintu rumah Frida dengan keras, tak sabar Tina.

Ketika pintu rumah terbuka, Frida berdiri menatapnya. Mulutnya terbuka, wajahnya pasi kuning selayak mayat. Terlihat payudara Frida telanjang di balik gaun tipisnya.

‘’Ular berbisa kau Frida!’’ tajam suara Tina.

Mulut Frida kelu, kaku, tak kuasa berkata untuk membela diri. Tina, tetangga yang acap ia beri advis kini siap menghakimi perbuatannya. 

Tina melempar giwang kawin ke arah wajah Frida. 

‘’Ambil, pakai saja sesuka hatimu, agar kau tidak jadi pelacur dan pencuri!’’ maki Tina.

Sementara Romy menyaksikan adegan ini dari arah belakang Frida. Tubuh bagian atasnya masih juga telanjang tanpa kaos. Lidah Romy sama kelunya dengan lidah Frida, mati kata!

Giwang kawin itu kini berserakan di lantai, tak ada harganya lagi, tak ada kutuk sakral di sana. 

Tina tertipu, tertipu oleh suami dan tetangganya sendiri. 

–o0o–

Photo ”Tertipu” Copyright 2014©RonOtt Photography, All rights reserved.

Fiksiana.kompasiana.com, cerpen ”tertipu”

Dit bericht was geplaatst op april 25, 2017, in Cerpen en getagd als .

Pertemuan … (cerpen)

“Shelly, tolong kosongkan keranjang sampah di dapur,’’ terdengar suara Martha dari ruang tamu.

Sementara suara burung parkit nyaring membelah hari baru. Pagi yang cerah, sinar mentari berbaris rapih masuk melalui celah kaca jendela dan gorden. Banyak partikel debu berterbangan di sana-sini ikut meramaikan.

Suara parkit terasa ribut menganggu pagi yang hikmat.

‘’Semi, stop!’’ perintah Martha pada parkit.

Martha masih asyik terus berbicara lewat telepon. Terdengar suara tertawa di seberang sana. Dien baru saja menceritakan kisah liburannya di Malta selama seminggu.

‘’Shelly!’’

Dien masih terus ingin melanjutkan cerita liburannya, tetapi Martha memotong, ‘’ udah deh kita ketemu aja biar asyik ceritanya.’’

‘’Minggu sore ya,’’ janji suara Dien di seberang sana.

Shelly masih juga terbaring di atas tempat tidurnya ketika Martha membuka pintu.

‘’Shelly, ini sudah jam sembilan, ayo bangun, sebentar papa datang. Shelly, ayo ntar kita telat ke poli!’’

Namun Shelly tetap lelap tidur. Martha menghampiri tempat tidur Shelly. Kini, degup jantung Martha demikian cepatnya hingga terdengar keras memukul dinding kepala. Tubuh Shelly dingin, wajahnya pucat, bibirnya biru kehitam-hitaman, warna hitam mewarnai mata bagian bawah. Kuku jarinya putih, tak ada darah di sana.

‘’Shelly!’’

Martha mengguncang-guncangkan tubuh Shelly. Tak ada reaksi, tak ada gerak, hanya nafas yang tersendat seperti suara kodok terdengar.

Secepat kilat Martha menyambar telepon Shelly di pinggir bantalnya. Nomor 112, alarm untuk pertolongan pertama. Setelah itu nomor Jos. Ditariknya beberapa pakaian yang penting; piyama dan pakaian dalam. Surat medikasi Shelly yang terletak rapih dalam map di atas meja dekat komputer juga ikut masuk dalam tas. Tak lama, hanya lima menit ambulans sudah ada di depan rumah.

Martha tak ingin menangis, namun air mata itu … terasa panas dan asin, perih memoles pipinya.

Martha mengikuti semua gerak perawat dengan hati yang sedih dan pikiran kacau. Sesekali terdengar suara perawat yang menyebut angka-angka dan menulisnya pada map, sementara perawat yang lain menusukkan jarum infus pada pembuluh vena dekat pergelangan tangan Shelly. Berkali-kali perawat melirik surat medikasi Shelly dan berbicara lewat telepon dengan seseorang.

Hiruk pikuk suara lalu lintas tiba-tiba saja begitu jauh terdengar. Tiba-tiba Martha menjadi setengah tuli. Digenggamnya terus tangan Shelly. Perjalanan terasa sangat jauh dari biasanya.

Berkali-kali Jos menelpon Martha, tetapi tidak ada reaksi. Telepon mati.

Lorong gang yang menghubungkan unit sal pertolongan pertama, terlihat begitu panjang seakan tak berujung. Martha ikut berlari bersama perawat. Pada ujung gang pintu telah terbuka, dua perawat sudah menunggu untuk mengambil alih tugas. Martha merasakan seseorang memakaikan sesuatu pada kepalanya. Martha tak tau lagi siapa yang menarik tangannya untuk mengenakan jas warna hijau muda itu. Martha merasa tasnya di rampas oleh seseorang. Dan tiba-tiba saja mereka berada di tengah ruang dengan lampu sorot yang besar. Tiba-tiba saja Martha melihat ala-alat yang tidak asing lagi baginya.

Air mata itu, tetap saja bergulir, memanaskan penglihatannya. Entah darimana, tiba-tiba saja Jos sudah memeluknya dari belakang. Martha hanya bisa mengenalnya lewat mata, kalau itu Jos, oleh karena Jos pun sama seperti Martha, keduanya berbalut warna hijau muda dari kepala sampai kaki.

Warna putih, hijau muda, biru muda dan denting adu peralatan meramaikan tempat sunyi itu. Terdengar suara komando; satu, dua, tiga! dan Shelly pun berpindah alas tempat tidur.

Berdua Jos dan Martha berdiri berpelukkan bahu dan tangan, menyaksikan dari jarak hanya satu meter di belakang tempat Shelly. Seseorang mengambil tempat duduk di belakang tempat tidur Shelly, anestesi.

Kini bergantian pandang mata dokter ke arah Martha dan Jos.

Tepat pukul duabelas tengah malam mata Shelly terbuka. Pipinya kini berwarna merah muda, segar. Biru dan hitam tadi pagi kini sirna.

‘’Kita tetap pantau duapuluhempat jam, setelah itu pindah ruang ICU lain,’’ ucap dokter.

Martha dan Jos duduk di dekat tempat tidur Shelly, sambil tangan Jos mengusap kepala Shelly.

‘’Mama, jangan bersedih. Shel kuat kok,’’ suaranya lemah.

‘’Ini, mama bawakan Bambi, dia sembunyi di bawah tempat tidurmu,’’ Martha menyelipkan boneka kecil Bambi teman tidur Shelly di dekat bantalnya. Dikecupnya pipi Shelly.

‘’Pap, Mam, aku ada tulis di komputer.’’

‘’Sssssssh, … usahakan bobo Shelly,’’ jari Martha menempel pada bibir anaknya.

‘’O, apa tuh?’’ tanya Jos

‘’Shel gak cerita ah, mesti baca sendiri.’’

‘’Mm … tebak, pasti tentang aksi jualan gelang manik-manik kan?,’’ kata Martha.

Shelly hanya tersenyum membalasnya.

‘’Gak pulang Pap?’’

‘’Gak, kita tunggu sampai kamu sembuh dan pulang ke rumah sama-sama.’’ Jos ucapkan sambil mencium pipi Shelly.

Jos menarik kursi dekat meja, diraihnya sebuah majalah tua di atas meja. Dibacanya untuk melawan rasa kantuk.

Martha tetap duduk di pinggir tempat tidur Shelly, sambil merebahkan kepalanya dekat bantal. Kelelahan yang sangat akhirnya mengalahkan mata mereka.

Shelly terbangun. Ia merasa perutnya kejang. Dihirupnya udara dengan nafas yang panjang. Digoncangnya kepala Martha di sebelahnya, agar bangun. Namun Martha tetap pulas, tertidur.

Shelly mencoba memanggil Jos, tetapi suara itu tak juga keluar. Kejang merambat dan mengunci rongga mulut, lidah terasa kaku.

Tiba-tiba Shelly melihat semua lampu menyala, sinarnya begitu terang sekali. Belum pernah Shelly melihat lampu seperti ini, warna warni. Sesekali seperti lampu sedang berdisko, kerlap kerlip. Banyak bayangan di tembok dan plafon datang dan pergi. Ada Sisca lagi main tarik tali dengan Ben, ada tante Sherly lagi jalan-jalan dengan bayinya, bahkan ada ibu guru Bianca lagi menulis pada papan tulis di depan kelas.

Terdengar suara Martha memanggilnya, terasa juga elusan tangan pada pipinya.

Tapi Shelly masih terpesona dengan keindahan nyala lampu dan bayangan yang datang dan pergi. Begitu terangnya sinar lampu hingga Shelly bisa melihat apa saja dengan jelas.

Shelly tak usah meloncat, dia bisa meloncat. Tak usah berlari dia pun bisa berlari, bahkan mendaki gunung yang tinggi pun Shelly sanggup dalam hitungan detik. Sangat menakjubkan Shelly bisa mengarungi lautan yang biru, bahkan berlomba dengan ikan lumba-lumba.

Di atas ladang rumput Shelly melayang, kemudian cepat hidungnya menyentuh pucuk bunga-bunga jagung. Harum ladang jagung milik Jos, sudah tercium aromanya.

Di sebelah sana, ladang bunga matahari. Terlihat, semua berdansa riang dengan cahaya lampu yang begitu terang dan banyak.

‘’Hai,’’ sapa kembang matahari, senyumnya lebar dengan gigi yang putih. Dan matanya bersinar seperti cahaya matahari.

Shelly mengulurkan tangan, memperkenalkan diri. Tiba-tiba saja mereka menarik tangannya ramai-ramai.

‘’Hai, mari kita menari,’’ bujuk mereka.

Begitu menyenangkan suasananya, Shelly merasa bahagia. Belum pernah ia diajak ramai-ramai begini, apalagi untuk menari.

Mata Shelly bisa melihat apa saja, dimana saja. Kakinya yang panjang dan lentur itu bisa meloncat sepanjang yang ia suka. Pucuk cemara yang tinggi pun bisa ia capai. Saking senangnya Shelly meloncat jauh kemana saja ia suka. Dan dimanapun ia berada selalu penuh dengan lampu yang terang.

‘’Shelly,’’ seseorang dari kejauhan memanggil namanya.

Bermula bayangan yang hitam seakan tak dikenal. Tetapi, tiba-tiba saja Shelly mengenalnya.

Dari kejauhan bayangan itu datang menghampirinya dengan cepat, dan kini Shelly bisa melihatnya dengan jelas. Ah, cantiknya dia. Wajahnya pernah ia lihat, tetapi dimana?

‘’Mira,’’ sapa Shelly dengan gembira.

Mereka berdua bertemu, berpelukkan. Sambil tangan berpegangan mereka menari. Ladang bunga matahari tak lelahnya mengiringi tarian mereka dengan lagu-lagu yang ceria. Ketika Shelly terjatuh karena salah melangkah pun ladang berubah cepat menjadi bantal empuk bunga-bunga. Shelly senang, sebab tak merasa sakit, ajaib!

Mereka berdua menari, menyanyi menembus ladang waktu bersama kenangan. Sepanjang parit-parit lembayung muda, Lavender menyambut mereka tanpa sungkan. Aromanya membuat jiwa demikian kaya dan terkenal. Kidung-kidung sonata tak berujung berlantun sahut menyahut. Shelly dan Mira terus menari.

‘’Sepertinya aku kenal kamu Mira.’’

Mira menganggukkan kepalanya, menunduk dan memegang kedua pipi Shelly dengan kedua tangannya. Mata Mira tajam menembus benak Shelly.

Baru kali ini Shelly melihat dalam mata Mira, pantulan bayangan dirinya sendiri. Dia berdiri di sana.

‘’Apakah aku kenal kamu?’’ tanya Shelly.

Sekali lagi Mira menganggukkan kepalanya, kali ini dengan senyum yang manis dan teduh.

‘’Iya, kamu adalah aku Shel, dan aku adalah kamu,’’ suara lembut Mira berkata.

Shelly mencium nafas yang keluar dari mulut Mira, harumnya begitu ia kenal. Ketika memegang tangan Mira pun, Shelly mengenal denyut nadi tangannya. Gema suara Mira seperti getar suara yang tak asing, yang pernah ia kenal siang dan malam. Bahkan getarnya sampai di dalam kamar jantung Shelly, denyutnya sama persis seperti yang ia rasakan selama ini.

‘’Mira, pernahkah dulu kita bertemu?’’

‘’Iya,’’ kerling mata Mira menjawab keinginan tahuan Shelly.

Tak menunggu pertanyaan Shelly selanjutnya, Mira menarik tangannya. Bersama mereka menelusuri dinding waktu. Kemana mereka pergi, selalu saja lampu-lampu menyertai dan menemani mereka.

Perjalanan waktu kenangan akhirnya membawa mereka berdua sampai pada sebuah tempat di atas bukit. Mata mereka menyapu hantaran lembah yang penuh dengan kerlipan lampu-lampu kehidupan.

Pohon Akasia yang rindang siap menunggu. Di bawahnya terhampar bunga-bunga liar Meadows berwarna putih dan kuning sebagai alas selimut tempat mereka berbaring.

Kata Mira,’’ mari rebahkan kepalamu pada pangkuanku.’’

Sambil memainkan setangkai bunga Meadow kuning di antara jari-jarinya, Shelly merebahkan kepala pada pangkuan Mira. Pipinya menyentuh dinding perut Mira, terdengar ritme kisah yang siap dimainkan melodinya. Getar yang pernah ia rasakan dan dengar, tetapi entah dimana.

Sementara jari lentik Mira bermain di antara ruas rambut di kepala Shelly. Baru kali ini, untuk yang pertama kalinya Shelly melihat betapa Mira memiliki lancip dagu serta lesung pipi seperti dirinya.

Lampu-lampu misteri kehidupan tetap saja menerangi mereka berdua, dan juntai cabang pohon Akasia yang rindang seakan menari riang tertiup angin yang sepoi.

Alam memerintahkan Mira memulai kisahnya. Dari jauh terdengar parkit Semi bernyanyi mengiringi kisah Mira. Suaranya merdu mengalahkan denting solo musik piano.

Ujung kisahpun menjadi nyata.

Ketika Shelly hadir di dunia ini, Mira harus mengalah, pergi demi Shelly. Martha dan Jos yang tak asing lagi bagi Mira, sebab Martha adalah perawat dan Jos seorang dokter internis. Berdua mereka sepakat mengadopsi seorang bayi perempuan yang lahir prematur dari seorang perempuan piatu penderita gagal ginjal. Tak ada ayah, tak ada keluarga. Yang ada hanyalah tangan mereka berdua yang menjadi penyambung cinta dan kasih sayang dalam kehidupan baru bayi Shelly.

Mira tersenyum, Shelly pun tersenyum, lampu-lampu tersenyum, bunga-bunga di ladang pun menundukkan kepala, mereka memberi hormat.

‘’Aku mau tetap di sini bersamamu Mira.’’

Mira memiringkan kepalanya, melihat pada lampu yang terang, ‘’bolehkah Shelly tinggal di sini?’’

Sinar lampau kini semakin terang dan warna warni cahaya pun bermunculan. Dari pintu awan-awan yang lembut bermunculan malaikat-malaikat berjubah keemasan bermanik berlian.

Terdengar suara yang lembut dan berwibawa, yang memutuskan bahwa Shelly boleh tinggal untuk selamanya bersama Mira.

Tak kuasa air mata bahagia Mira jatuh membasahi pipi Shelly. Dipeluknya Shelly, seakan-akan Mira takut kehilangan lagi.

‘’Aku, mama mu Shelly.’’

‘’Mama, …’’ lirih suara Shelly terdengar. ‘’Kita jangan terpisah lagi ya Ma.’’

Mira mengedipkan mata sambil tersenyum dan mencium pipi Shelly berulang-ulang. Bunga matahari serentak menari dan menyanyi, paduan suara yang menakjubkan. Di salah satu tangkai pohon Akasia, Semi parkit ikutan bernyanyi sambil mengepakkan sayapnya yang kecil. Mira dan Shelly menyaksikan pertunjukkan ini dengan senyum dan pandangan mata bahagia.

Usaha untuk mengembalikan Shelly melalui defibrilator tak berhasil. Jos dan Martha dengan kesedihan yang dalam dan berat hati harus melepaskan kepergian Shelly. Sudah untuk kedua kalinya Shelly menjalani cangkok ginjal. Operasi yang kedua ini rupanya berkendala bagi kestabilan darah Shelly. Satu kali pernah Shelly mengalami keracunan darah. Rupanya, Shelly menyandang juga diagnosis yang sama seperti mamanya, Mira, yaitu gagal ginjal.

Dua hari setelah Shelly meninggal dunia, Semi parkit pun ikut-ikutan mati. Pikir Martha, mungkin Semi sangat sedih ditinggal pergi oleh Shelly. Tanpa sebab Semi di dapatkan tergeletak kaku di dalam sarangnya.

‘’Empat huruf, mama

antara album kisah sederhana

jauh, untuk dilihat

menempel di ranah hati

empat huruf, mama

2 x 4 = delapan, smuanya ku punya’’

Gemetar tubuh Martha dan Jos ketika membaca puisi pendek Shelly pada komputernya.

‘’Shelly sudah bertemu Mira,’’ ucap Martha sambil tersedu menangis. Jos pun menangis.

Mira dan Shelly, akhirnya bertemu. Mira tak pernah tau wajah anaknya ketika lahir. Shelly tau lewat foto Martha. Misteri kehidupan tak pernah sembunyi pada akhirnya. Berjalan bersama Mira dan Shelly menuju negeri yang baru. Di sana tak ada sakit ginjal, tak ada dokter. Di sana lampu-lampu senantiasa menyala terang tanpa jeda waktu. Dan di sana, simfoni lagu kehidupan dinyanyikan secara gratis oleh bunga matahari di taman sepanjang masa.

-o0o-

Photo ”Pertemuan” Copyright 2017©RonOtt Photography. All rights reserved.

Fiksiana.kompasiana.com, cerpen ”pertemuan”

Dit bericht was geplaatst op april 6, 2017, in Cerpen en getagd als .

Carpe Diem … (puisi)

 

 

Nikmati garis keriputmu,

setua usia bumi kubaca kisahmu

Pinecone, pinecone, berserakan

Liuk lekuk pertanda usiamu

Endus aromamu, pinus

Pinecone, pinecone, berapa hektar jauh larimu

Kupungut, esok kau jatuh lagi

Biji kembali biji, julang tinggi pinus pinus di bumi

Antara selimut debu kutemui pula selimutmu dari salju

Tak rela aku lari darimu, kunikmati sampai mati

Pinecone, pinecone, kisah pinus pucukan lembah-lembah

Biar kurajut dirimu dengan mata imajinasiku

Hari ini kulihat kau telanjang

Pinus, pinus, pinecone, pinecone

Kutempelkan telingaku, kupejam mataku, kudengar suaramu,

hari ini, tentang puisi gergaji pilu,

sonata panjang tentang rahmat

Rusa berkalung lonceng mengetuk hati bahagia

Biar, jangan usir aku

Biar, aku duduk di sini, menikmatimu

Biar, kutemui dirimu Biar, ku bersandar pada ibumu, pinus

Biarkan aku mengabadikan waktumu yang sesaat

… klik … suara kameraku, fakta dirimu

Pinecone, cintaku pada lembah-lembah pinus 

-o0o-

Photo ”Carpe Diem” Copyright 2016©RonOtt Photography. All rights reserved.

Fiksiana.kompasiana.com ”carpe-diem”

Dit bericht was geplaatst op maart 31, 2017, in Puisi en getagd als .